Bawaslu Pacitan Rekrut Kaum Milinial Menjadi Mitra Pengawasan Partisipatif

SNN | PACITAN – Bawaslu Kabupaten Pacitan berkonsentrasi melaksanakan sosialisasi pengawasan partisipatif masyarakat guna pengawasan dalam Pemilu dan Pemilihan. Setelah terbentuknya kemitraan Desa Pengawasan, dan Desa Anti Money Politik dimulai per, 27-28/11/2019 Bawaslu Kabupaten Pacitan menggelar sekolah Kader Pengawasan partisipatif yang bertempat di Hotel Graha Prima Pacitan.

 

Melalui Pendaftaran yang dibuka dan diumumkan oleh Bawaslu maka seleksi tes administrasi dan wawancara terpilihlah 50 peserta untuk dapat mengikuti Sekolah Kader Pengawasan Partisipatif.

 

“Peserta Sekolah Kader terdiri dari anak-anak muda usia 17 tahun maksimal 30 tahun dari berbagai elemen organisasi kepemudaan di Kabupaten Pacitan”, kata Berty Stevanus HRW, SH, selaku Ketua Bawaslu Kabupaten Pacitan kepada Suara Netizen News, kamis (28/11/2019).

Sebagai narasumber untuk Sekolah kader pengawasan Partisipatif berasal dari berbagai unsur mulai dari Bawaslu Propinsi, Bawaslu Kabupaten Pacitan, KODIM (Komando Distrik Militer) 0801 Pacitan, Aktivis dan Pegiat Pemilu.

 

Lebih dalam Berty menjelaskan “Sekolah Kader ini melibatkan sebanyak mungkin masyarakat termasuk organisasi kepemudaan untuk melakukan pengawasan partisipatif dengan tujuan peserta setelah mengikuti sekolah pengawasan partisipatif, mereka menjadi mitra kerja Bawaslu dalam pengawasan setiap tahapan pemilu paling tidak melaksanakan pengawasan di lingkup tempat tinggalmereka masing-masing” harapnya.

 

Sekolah Kader Pengawasan dilaksanakan secara berjenjang, dimulai dari Kabupaten (tingkat Dasar), Provinsi (tingkat Madya) dan Pusatnamanya tingkat Nasional. Dan mekanisme siapa yang dapat melanjutkan ke tingkat selanjutnya masih menunggu petunjuk dari bawaslu RI, tentunya melewati serangkaian tes yang ada.

 

Berty Stevanus HRW, SH yang juga Koordinator Divisi SDM (Sumber Daya Manusia) Bawaslu Kabupaten Pacitanmungupayakan ke pusat dengan adanya mitra-mitra pengawasan partisipatif untuk menjadikan perhatian Bawaslu pusat yang selama ini masih menjadi mitra sukarelawan.

 

“mereka di didik menjadi kader pengawasan menjadi mitra-mitra Unggul dari Bawaslu secara sukarela, dan kami masih berupaya serta berharap mereka nanti bisa mendapatkan honor“. Tandasnya.

 

Setelah membentuk berbagai macam pengawasan partisipatif di desa dan sampai mengadakan Sekolah Kader Pengawasan, harapannya pengawasan lebih masif lagi karena bukan hanya Bawaslu saja namun akan bertambah banyak lagi masyarakat yang terlibat dalam pengawasan untuk mengawal Pemilu dan Pemilihan yang akan datang. (ASR)