Indonesia Raya: Harapan Baru Pasca Perubahan Geopolitik dan Strategis Global

waktu baca 4 menit
Senin, 25 Agu 2025 19:22 116 Suara Netizen

Oleh: Agus Widjajanto

Suaranetizen,-Perubahan geopolitik dan geostrategis dunia kini semakin terasa dampaknya, baik secara global maupun regional.

banner 600x600

Kawasan Asia Tenggara atau yang kini populer disebut kawasan Indo-Pasifik menjadi salah satu wilayah paling strategis sekaligus paling rawan konflik.
Kepentingan nasional, harga diri bangsa, hingga perebutan sumber daya alam membuat wilayah ini berpotensi menjadi titik letupan perang.

Konflik perbatasan antara Kamboja dan Thailand beberapa waktu lalu hanyalah contoh kecil dari potensi besar yang bisa mengguncang stabilitas kawasan.

Asia Tenggara: Kawasan Strategis yang Jadi Rebutan Dunia

Asia Tenggara adalah wilayah yang menjanjikan dalam pertumbuhan ekonomi.
Negara-negara ASEAN bersama kekuatan global seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia, Rusia, hingga Tiongkok, menjaga ketat kawasan ini karena dinilai sebagai poros masa depan dunia.
Namun, di balik itu, kawasan ini juga menjadi rebutan negara adidaya.
Kekayaan sumber daya alam serta jalur perdagangan dunia yang vital menjadikan Asia Tenggara sangat rawan konflik.
Laut China Selatan dan Taiwan, misalnya, menjadi titik panas yang sewaktu-waktu dapat memicu perang besar.

Tiongkok dengan kekuatan militer dan ekonomi yang kian dominan, bersaing dengan Amerika Serikat dan sekutunya.
Sengketa batas laut, termasuk klaim Nine Dash Line yang tumpang tindih dengan negara ASEAN (Malaysia, Filipina, Vietnam, hingga Indonesia), menjadi isu serius yang hingga kini hanya bisa diredam melalui diplomasi.

Peringatan Prabowo: Indonesia Bisa Bubar 2030

Prabowo Subianto pernah mengutip buku Ghost Fleet: Novel of the Next World War karya P.W. Singer dan August Cole yang menggambarkan kemungkinan Indonesia bubar pada tahun 2030 akibat perang dan konflik geopolitik.

Prabowo menjadikannya peringatan bahwa Indonesia tidak boleh lengah menghadapi tantangan seperti:
Kemiskinan dan kesenjangan ekonomi
Penguasaan sumber daya alam oleh asing
Persoalan lingkungan dan krisis pangan
Prabowo menegaskan bahwa banyak pihak asing yang iri dengan kekayaan alam Indonesia dan ingin menguasainya.
Oleh sebab itu, masyarakat harus bersatu dan tidak mudah dipecah belah.

Dari Ancaman Perang ke Gagasan “Indonesia Raya”

Sejarah mencatat, setelah Perang Dunia II usai, tatanan dunia berubah drastis.
Penjajahan fisik berganti menjadi dominasi ideologi dan ekonomi.
Tidak menutup kemungkinan, skenario seperti Ghost Fleet benar-benar terjadi akibat perubahan geostrategis global.
Namun, bagi penulis, “bubar” bukan berarti tercerai-berai menjadi negara-negara kecil.

Justru bisa muncul kesadaran baru untuk bersatu, mengingat kawasan ini memiliki akar sejarah dan budaya yang sama.
Gagasan tentang Indonesia Raya sesungguhnya sudah pernah dibicarakan.
Menjelang kemerdekaan 1945, Soekarno pernah berdiskusi dengan tokoh nasionalis Melayu, Ibrahim Yacob dan Burhanudin Al-Hilmy, tentang persatuan rumpun Melayu dalam satu negara besar bernama Indonesia Raya.
Sayangnya, rencana itu kandas setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945, sehingga Indonesia kemudian memproklamasikan kemerdekaan sendiri pada 17 Agustus 1945.

Negara-Negara Serumpun dan Sejarah Bersama

Beberapa negara tetangga memiliki sejarah erat dengan Indonesia:
Malaysia merdeka dari Inggris pada 31 Agustus 1957, 12 tahun setelah Indonesia.
Singapura sempat bergabung dengan Malaysia (1963–1965) sebelum menjadi negara independen pada 9 Agustus 1965.
Brunei Darussalam baru merdeka dari Inggris pada 1 Januari 1984.
Kamboja memiliki hubungan erat dengan Jawa dan Nusantara sejak era Kerajaan Khmer.
Hubungan sejarah dan budaya ini menunjukkan adanya kesamaan akar, dari agama, perdagangan, hingga arsitektur.

Sunda Land: Jejak Daratan Besar yang Hilang

Teori Sunda Land menguatkan gagasan penyatuan ini.
Dahulu, Asia Tenggara diyakini sebagai satu daratan besar yang kemudian tenggelam akibat perubahan iklim zaman es.
Penelitian geologi dan arkeologi menemukan bukti peradaban kuno di wilayah ini.

Bahkan ada teori yang menyebut Sundaland sebagai benua Atlantis yang hilang.
Jika benar, maka negara-negara di Asia Tenggara sejatinya berasal dari satu peradaban yang sama.

Menuju Indonesia Raya di Era Baru

Mungkinkah di masa depan terbentuk federasi besar bernama Indonesia Raya?
Federasi ini akan menyatukan negara-negara serumpun Melayu dan Asia Tenggara, dengan tujuan menjaga perdamaian, melindungi kekayaan alam, serta menjadi kekuatan baru dunia.
Konflik lama seperti Ambalat, Sipadan-Ligitan, hingga masalah ekstradisi bisa dihapuskan.

Singapura bukan lagi sekadar tempat pelarian koruptor, melainkan menjadi pusat pelabuhan dunia dalam federasi bersama.
Sejarah selalu berulang. Mungkin saja mimpi tentang Indonesia Raya bukan sekadar utopia, melainkan arah baru bagi kawasan Indo-Pasifik dalam menghadapi perubahan tatanan global.

Penulis adalah pemerhati sosial, politik, hukum, budaya, dan sejarah bangsa.

LAINNYA
error: Content is protected !!