Mutu Beras di Gudang Bulog Abu-Abu, Alarm Terkuat dari DPR yang Membungkam Klaim Surplus

waktu baca 3 menit
Minggu, 28 Sep 2025 03:08 114 Suara Netizen

Oleh: Iskandar Sitorus, Sekretaris Pendiri Indonesian Audit Watch (IAW)

Suaranetizennews,- Ketua Komisi IV DPR, Titiek Soeharto, melakukan inspeksi mendadak ke Gudang Bulog Tabahawa, Maluku Utara, dan menemukan stok beras lokal yang telah disimpan sejak Mei 2024 berwarna abu-abu, itu menunjukkan mutu yang menurun drastis.

banner 600x600

Menurut DPR, sebagian stok ini sudah terlalu lama disimpan tanpa putaran, dan ada risiko disalurkan dalam kondisi tidak layak, termasuk untuk program stabilisasi.

Temuan ini bukan catatan kecil, karena sekitar 1.200 ton beras di gudang tersebut dinilai mengalami penurunan mutu, setara dengan stok lama yang terlambat distribusinya.

Selain itu, di gudang lain di Surabaya pun ada sorotan atas penurunan mutu, akibat imbas dari penyimpanan jangka lama dan manajemen gudang yang lemah.

Luka Lama Kegagalan Manajemen yang Terulang

Temuan mutu buruk ini menggaungkan kembali kritik-kritik lama yang selama ini disampaikan oleh BPK, Ombudsman, dan pengamat pertanian, yakni:

1. Stok lama rusak, LHP BPK berkali-kali mencatat banyak cadangan beras pemerintah (CBP) yang rusak karena kelemahan manajemen gudang (tahun-tahun sebelumnya).

2. Distribusi tertahan, sehimgga beras yang seharusnya segera disalurkan menumpuk dan lama di gudang, membuat kualitas turun tanpa ada rotasi FIFO (first in, first out).

3. Biaya gudang tinggi: penyimpanan beras lama tidak hanya merusak mutu, tetapi juga memboroskan dana negara.
arrow forward ios

Sekarang, ketika warna beras saja sudah berubah ke abu-abu, itu berarti sistem sudah melewati batas toleransi. Klaim surplus dan stok melimpah pun menjadi rapuh.

Kritik ke Mentan, Jangan Klaim Tanpa Akuntabilitas

Temuan mutu beras ini adalah pukulan telak terhadap gaya Mentan Amran yang kerap mengumbar jumlah stok dan proyeksi surplus tanpa membuktikan bahwa stok itu layak konsumsi.

Kita sudah sering menyuarakan, bahwa surplus bukan soal angka, melainkan soal kualitas, distribusi, dan manfaat nyata bagi rakyat.

Jika stok besar itu mengandung beras yang rusak, maka “surplus” itu bukan prestasi, melainkan potensi bencana pangan, itu akan membebani anggaran dan akhirnya membebani rakyat dengan distribusi buruk dan harga tinggi.

Apa yang harus segera dilakukan pemerintah?
1. Segera audit mutu cadangan beras.
– BPK dan Ombudsman harus mendesak audit fisik stok beras di semua gudang Bulog untuk cek mutu, umur, dan kuantitas.
– Hasil audit harus dipublikasikan agar publik tahu bagian mana stok yang masih layak dan mana yang harus dipisahkan.

2. Rotasi dan dstribusi prioritas stok lama.
– Beras yang lama disimpan harus segera diputar atau dikeluarkan dari gudang sebelum rusak total.
– Jika ada stok yang kondisi mutunya sudah menurun, jangan dimasukkan ke program SPHP tanpa standar kualitas jelas.
3. Transparansi data gudang.
– Dashboard publik berisi stok per gudang (termasuk kualitas mutunya), umur stok, dan rencana rotasi.
– Publik punya hak tahu berapa ton beras “abu-abu” yang disimpan di gudang mana.5

4. Penegakan akuntabilitas dan sanksi.
– Jika ditemukan maladministrasi (stokk lama disembunyikan, tidak dirotasi), aparat pengawas harus bertindak (inspektorat, BPK, Ombudsman)

– Menteri Pertanian dan manajemen Bulog harus menjelaskan kenapa stok lama masih ada, kenapa distribusinya tetap lambat.

Kesimpulan: Titiek Membuka Tabir Surplus yang Rapuh

Pemerintah boleh mengklaim stok beras besar, surplus nasional, dan serapan petani fantastis. Tapi ketika DPR menemukan beras berwarna abu-abu di gudang Bulog, kenyataan tak bisa dibohongi. Ini bukan lagi soal retorika, tetapi ini soal standar mutu pangan dan hak rakyat atas makanan yang layak.

IAW menegaskan bahwa surplus yang sesungguhnya bukan sekadar angka stok, melainkan stok yang sehat, mutunya terjaga, dan tersalurkan tepat.

Jika kualitas sudah kacau, surplus hanyalah janji kosong. Sekarang saatnya Menteri tidak hanya menyampaikan narasi besar, tetapi membuktikan melalui audit, transparansi, dan tindakan nyata.

Editor:

JUNAIDI P.HASIBUAN

LAINNYA
error: Content is protected !!