Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, telah meninggal dunia di kantornya pada Sabtu (28/02/2026). Suaranetizennews,- Televisi Pemerintah Iran mengonfirmasi Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, telah meninggal dunia. Menurut siaran tersebut, Khamenei meninggal dunia di kantornya pada Sabtu (28/02).
Media Iran menyebut meninggalnya pemimpin tertinggi mereka bukanlah akhir dari segalanya. Iran akan tetap akan berdiri tegak melawan kazaliman Israel dan AS.

Diberitakan, negara itu akan memasuki masa berkabung selama 40 hari. Putri, menantu, dan cucu Khamenei, termasuk Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC Mohammad Pakpour, serta pejabat keamanan Ali Shamkhani juga dilaporkan tewas dalam serangan AS-Israel tersebut.
Kepemimpinan Khamenei
Khamenei, 86 tahun, telah memimpin Iran sejak 1989, menggantikan pemimpin tertinggi pertama Republik Islam yang berdiri pada 1979, Ruhollah Khomeini.
Selama masa kepemimpinannya, Iran mengembangkan program nuklir serta memperluas dukungannya kepada aktor-aktor yang bersekutu dengan Muslim Syiah di Timur Tengah, seperti Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, dan Kata’ib Hezbollah di Irak.
Di bawah kepemimpinannya, Iran juga mendanai dan melatih Hamas, yang mengambil alih Jalur Gaza pada 2007 dan melancarkan serangan 7 Oktober 2023 terhadap Israel.
Balas Kebiadaban Israel dan AS
Balas dendam sejatinya bukanlah sifat yang diridhoi ajaran Islam. Namun apabila, negara Islam telah diperangi duluan, maka wajib hukumnya memerangi kembali pihak yang melancarkan perang lebih dulu.
Setelah pengumuman kematian Khamenei, IRGC menyatakan akan segera meluncurkan “operasi ofensif paling intens” terhadap Israel dan pangkalan AS di Timur Tengah.
“Operasi ofensif paling dahsyat dalam sejarah angkatan bersenjata Republik Islam Iran akan segera dimulai,” tulis IRGC di Telegram.
IRGC merupakan cabang berpengaruh dari angkatan bersenjata Iran yang berpegang pada nilai-nilai Revolusi Islam 1979.
Pemerintah di Teheran juga mengumumkan akan melancarkan pembalasan keras. “Kejahatan besar ini tidak akan dibiarkan begitu saja dan akan membuka babak baru dalam sejarah duna Islam dan Syiah. Darah Khamenei akan mengalir bagaikan mata air yang deras dan memberantas ketidakadilan dan kejahatan Zionis Amerika.”mengutip pernyataan Pemimpin Militer Iran.
Bentuk Dewan Masa Transisi
Sebuah dewan yang terdiri atas Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan dua pejabat tinggi lainnya telah dibentuk untuk mengambil alih kepemimpinan selama masa transisi setelah kematian Khamenei.
Kepala kehakiman Gholamhossein Mohseni Ejei juga menjadi bagian dari trio tersebut, menurut laporan televisi pemerintah yang mengutip penasihat Khamenei, Mohammad Mokhber.
Majelis Para Ahli, sebuah badan yang beranggotakan 88 ulama, akan segera memilih pemimpin tertinggi baru berdasarkan hukum Iran.
Pejabat keamanan tertinggi Iran juga menyatakan proses transisi menuju pemimpin baru setelah kematian Khamenei dapat dimulai paling cepat pada Minggu (01/03), menurut media pemerintah Iran.
“Dewan kepemimpinan sementara akan segera dibentuk. Presiden, kepala kehakiman, dan seorang ahli hukum dari Dewan Penjaga Konstitusi Iran akan memikul tanggung jawab bersama hingga pemimpin berikutnya terpilih,” demikian pernyataan yang dikutip televisi pemerintah Iran.
Dia juga memperingatkan kelompok separatis agar tidak mengambil langkah selama masa transisi dan menyatakan akan ada respons keras jika terjadi upaya yang mengganggu stabilitas.
Iran Akan Tetap Berdiri Tegak
Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf pada Minggu (01/03) menyatakan Iran telah mempersiapkan diri untuk semua kemungkinan, termasuk kematian Khamenei.
“Kami telah mempersiapkan diri untuk momen-momen seperti ini dan mempertimbangkan semua skenario,” ujarnya dalam sebuah pidato yang disiarkan televisi.
Dia juga memperingatkan AS dan Israel bahwa mereka telah “melewati batas” dan “akan menanggung konsekuensinya.”
“Kami akan memberikan pukulan yang begitu menghancurkan hingga Israel dan Amerika sendiri akan memohon ampun dan meminta maaf,” katanya.
Pengalaman masa lalu menunjukkan Iran punya mekanisme bertahan yang sangat amat kuat. Saat sejumlah pimpinan militer senior dilaporkan tewas dalam operasi presisi beberapa tahun terakhir, struktur komando digantikan cepat. Rudal tetap diluncurkan, operasi berjalan, dan negara tidak runtuh.
Kuncinya ada pada desain komando yang tidak sepenuhnya bergantung pada satu orang. Inti kekuatan itu berada di Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Sejak awal 2000-an, IRGC membentuk unit-unit provinsi independen dengan rantai komando sendiri.
Bahkan, kewenangan peluncuran rudal dilaporkan telah didelegasikan ke level perwira lebih rendah sebagai antisipasi bila pucuk kepemimpinan lumpuh. Artinya, wafatnya pemimpin tertinggi tidak otomatis menghentikan respons militer justru sebaliknya, sistem bisa terus bergerak secara “otomatis”.
Pasokan Energi Dunia Tersandera
Konsekuensi paling cepat terasa bukan di Teheran, melainkan di pasar global. Ketidakpastian komando membuat perusahaan minyak dan gas menahan pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia setiap hari.
Penangguhan ini bukan ancaman kosong, melainkan akan berdampak nyata pada harga energi, inflasi, dan stabilitas ekonomi banyak negara.
Penulis : Junaidi P.Hasibuan