(foto dok : Setkab) Suaranetizennews – Negara Indonesia resmi bergabung dalam Dewan Perdamaian untuk Gaza yang digagas oleh Amerika Serikat (AS). Keputusan tersebut menjadi respons terhadap undangan yang diberikan oleh Presiden AS Donald Trump terhadap banyak negara besar.
Delapan negara menyatakan kesepakatan kolektif ini terdiri dari Turki, Mesir, Yordania, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), termasuk Indonesia. Kehadiran kekuatan regional seperti Arab Saudi dan Turki, ditambah dengan negara berpenduduk Muslim terbesar seperti Indonesia, memberikan legitimasi diplomatik yang signifikan terhadap rencana perdamaian yang diusung oleh Gedung Putih.

Komitmen Bersama dan Legalitas Internasional Dalam keterangan resmi yang dirilis oleh Kementerian Luar Negeri Turki, para diplomat senior dari negara-negara tersebut menegaskan bahwa langkah ini adalah bagian dari tanggung jawab moral dan politik untuk mengakhiri krisis kemanusiaan di Gaza.
“Para Menteri mengumumkan keputusan bersama negara mereka untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian,” demikian bunyi pernyataan bersama tersebut, yang disampaikan pada Rabu, 21 Januari 2026. Pernyataan itu juga merinci bahwa proses integrasi ke dalam dewan ini akan dilakukan dengan menghormati kedaulatan hukum masing-masing negara anggota. “Setiap negara akan menandatangani dokumen bergabung sesuai dengan prosedur hukum dan prosedur lain yang diperlukan masing-masing, termasuk Republik Arab Mesir, Republik Islam Pakistan, dan Uni Emirat Arab, yang telah mengumumkan untuk bergabung,”
Mandat Transisi dan Resolusi PBB Dewan Perdamaian ini dirancang bukan sekadar sebagai forum dialog, melainkan sebagai badan pemerintahan transisi yang memiliki mandat eksekutif untuk mengelola Gaza pasca-konflik. Pembentukannya sejalan dengan Rencana Komprehensif untuk Mengakhiri Konflik Gaza yang sebelumnya telah mendapatkan legitimasi internasional melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803. Para menteri luar negeri menegaskan kembali dukungan mereka terhadap kepemimpinan Trump dalam inisiatif ini. Fokus utama dari dewan ini mencakup tiga pilar fundamental:
Dengan bergabungnya negara besar tersebut diharapkan dapat menciptakan efek domino positif bagi stabilitas kawasan, memberikan rasa aman tidak hanya bagi warga Gaza tetapi juga bagi negara-negara tetangga yang selama ini terdampak oleh eskalasi konflik.
Ridho H