“Iris Kuping Saya Kalau KPK Berani Tangkap Nusron”

waktu baca 2 menit
Rabu, 16 Sep 2026 21:04 51 Suara Netizen

Suaranetizennews,–Obrolan politik memang paling seru didengarkan. Mulai dari berbagai acara debat politik di televisi hingga ke warung kecil tempat Bapak-bapak ngopi sambil sarapan.

Debat kusir terjadi di sebuah warung kopi “Uda Yan” di Kota Bambu Selatan Palmerah Jakarta Barat. “Iris kuping saya kalau KPK berani tangkap Nusron Wahid,”ujar Bapak Sayuti kepada Pak Nardi lawan debatnya. “Loh, kenapa ga berani,”jawab Nardi.

banner 600x600

“Orang di KPK itu orang Jokowi semua Pak, diakhir masa jabatannya, Jokowi bentuk Pansel pemilihan anggota komisioner KPK. Makanya, meski  nama Jokowi selalu muncul di semua persidangan kasus korupsi, KPK tak berani panggil Jokowi,”tukas Sayuti.

“Kasus korupsi  di Kementerian ATR/BPN ga ada hubungannya sama Jokowi, Jokowi tidak pernah korupsi,”ujar Nardi si pembela Jokowi.

Tak mau kalah debat, Sayuti memotong omongan Nardi, sebentar saya lanjutkan! “Sekarang saya mau tanya, yang melengserkan Airlangga dari Ketum Golkar siapa? Jokowi kan..yang mengangkat Bahlil jadi Ketum Golkar siapa? Atas kemauan Jokowi juga. Nusron menteri dari Golkar anak buah siapa? Anak buah Bahlil orang dekat Jokowi. Makanya saya bilang, iris kuping saya kalau KPK berani tangkap Nusron,”tegas Sayuti.

Rupamya sebelum berdebat, layar televisi di warung Kopi Uda Yan tersiar berita penangkapan OTT KPK terhadap anak buah Menteri ATR/BPN Nusron Wahid.

Teori Konspirasi Suara Netizen 

Suara Netizen Indonesia mulai  riuh menulis  teori konspirasi  nyeleneh bak cerita sinetron sore. Ada yang mengatakan menteri-menteri dari partai berkuasa sudah didesain kebal hukum sejak dilantik, lengkap dengan jubah anti-KPK dan surat sakti dari pimpinan partainya.

“Silakan tangkap anak buah menteri sebanyak-banyaknya biar terlihat serius, tapi jangan sentuh menterinya. Nanti negara goyang,” tulis @Firdaus di akun X-nya, seorang netizen yang profilnya foto kucing pakai kacamata.

Yang lain menambahkan, “Bos Summarecon pasti tahu aturan main. Dia setor ke orang kepercayaan menteri, bukan ke tukang parkir. Masa iya orang kepercayaan main sendiri tanpa laporan ke atasan?”

Boleh jadi penyidik sibuk menghitung uang di 20 koper sampai lupa ada orang nomor 1 di Kementerian ATR/BPN yang mengendalikan pengumpulan uang yang dikorup. Padahal keempat orang kepercayaan sang menteri itu disebut KPK sendiri sebagai “orang yang merepresentasikan menteri.”

Fee ditagih dengan kode “dua”, uang dikumpulkan dari Kantah (Kepala Kantor Pertanahan) sampai ke kementerian. Arif jadi pengepul, Fahd jadi penampung akhir, semua uang mengalir ke atas seperti air mancur yang dipasang terbalik.

Dimana tanggungjawab menterinya? Kebal dan Sakti. Kalaupun akhirnya dipanggil  KPK, mungkin hanya menjawab saja, sedangkan yang menanggung tetap saja tuyul-tuyulnya di dalam penjara.

Penulis: Junaidi P.Hasibuan

LAINNYA
error: Content is protected !!