Karya Warga Binaan Ditjenpas Tampil Memukau di Bali Fashion Trend 2026

waktu baca 3 menit
Selasa, 23 Des 2025 11:00 108 Suara Netizen

Suaranetizennews – Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) hadirkan inovasi pembinaan Warga Binaan melalui kolaborasi strategis dengan Indonesia Fashion Chamber (IFC) pada ajang Bali Fashion Trend 2026. Kegiatan ini berlangsung pada Kamis (18/12) hingga Minggu (21/12) di Onyx Park Resort, Ubud, Gianyar, Bali.

Kolaborasi bertema Beyond Beauty ini menjadi wujud pengembangan pembinaan kemandirian yang mengintegrasikan hasil karya Warga Binaan dengan industri fesyen profesional. Pendekatan tersebut menempatkan pembinaan tidak hanya sebagai pelatihan keterampilan, tetapi juga sebagai sarana membangun kepercayaan diri dan kesiapan reintegrasi sosial.

banner 600x600

Dalam pergelaran ini, Ditjenpas berkolaborasi dengan desainer IFC, yaitu Sofie, Lisa Fitria, dan Irmasari. Berbagai produk hasil pembinaan, seperti batik, anyaman, bordir, dan produk kulit, diolah menjadi karya fesyen kontemporer yang memiliki nilai estetika dan daya saing pasar.

Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Mashudi, menegaskan kolaborasi ini mencerminkan komitmen Pemasyarakatan dalam menghadirkan pembinaan yang humanis dan berorientasi masa depan.

“Melalui Beyond Beauty, Warga Binaan tidak hanya dilatih keterampilan, tetapi juga dilibatkan sebagai bagian dari proses kreatif industri fesyen. Ini menjadi bekal penting untuk membangun identitas positif dan harapan hidup setelah kembali ke Program pembinaan yang mendukung kolaborasi ini dijalankan melalui tiga pilar utama. Pertama, penguatan standar kualitas produk melalui proses pembelajaran yang mengikuti kebutuhan industri fesyen. Kedua, pengembangan capsule collection yang memuat narasi perubahan dan proses pembinaan. Ketiga, penguatan storytelling sebagai strategi branding untuk meningkatkan nilai sosial dan ekonomi produk Warga Binaan,” ujar Mashudi.

“Bali Fashion Trend 2026 menjadi panggung strategis untuk memperkenalkan hasil pembinaan Pemasyarakatan kepada pasar nasional dan internasional. Advisory IFC, Ali Charisma, menyampaikan kolaborasi ini menunjukkan peran industri fesyen dalam mendorong perubahan sosial yang nyata. Sementara itu, Ketua Indonesia Fashion Chamber, Lenny Agustin, menilai kolaborasi ini sebagai langkah konkret menghadirkan makna sosial dalam dunia fesyen. “Fesyen tidak hanya soal estetika, tetapi juga tentang nilai dan dampak. Karya Warga Binaan yang ditampilkan membuktikan proses pembinaan dapat melahirkan produk berkualitas dengan cerita yang kuat,” Mashudi menambahkan.

Dari sisi sosial dan psikologis, program ini diharapkan mampu meningkatkan rasa percaya diri Warga Binaan melalui apresiasi profesional terhadap karya mereka. Kolaborasi ini juga diharapkan membantu mengikis stigma terhadap produk hasil pembinaan dan membuka peluang ekonomi setelah masa pidana berakhir.

Secara sistemik, kolaborasi ini menjadi model penguatan kemitraan antara Pemasyarakatan dan industri kreatif. Program ini sejalan dengan arah kebijakan Pemasyarakatan yang menekankan rehabilitasi dan reintegrasi sosial, serta dapat direplikasi pada sektor industri kreatif lainnya.

Ditjenpas berkomitmen mengembangkan program ini secara berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan melalui perluasan kerja sama dengan desainer dan pelaku industri fesyen nasional, penguatan kapasitas pembinaan di unit pelaksana teknis, serta evaluasi dampak program terhadap keberhasilan reintegrasi sosial Warga Binaan.

Ruli Harahap

LAINNYA
error: Content is protected !!