Menerka Sikap Iran Terhadap Niat Presiden Prabowo Maju Sebagai Mediator

waktu baca 3 menit
Selasa, 10 Mar 2026 00:11 95 Suara Netizen

Suaranetizennews,- Dua kapal Tanker Pertamina masih terparkir di Selat Hormuz. Pemerintah mengklaim, sedang melakukan negosiasi dengan pihak pemerintah Iran.

Kabarnya, atase dari Dubes Iran telah menginformasikan, bahwa tidak ada ruang negosi bagi Indonesia terkait dengan penutupan Selat Hormuz yang menyebabkan dua Kapal Tanker Pertamina tersebut tidak bisa melanjutkan perjalanan menuju tanah air.

banner 600x600

Informasi tersebut disampaikan Direktur The National Maritime Institute (Namarin), Siswanto Rusdi. “Saya sudah mendapat informasi dari atase Kedubes Iran, mereka mengatakan tidak ada ruang negosiasi dengan pihak pemerintah Indonesia terkait dua kapal Tanker Pertamina tersebut,” ujarnya

Berkaca dari pernyataan Atase Dubes Iran tersebut, lantas apakah mungkin pemerintah Iran akan menyambut baik rencana Presiden Prabowo untuk menjadi mediator dalam perang yang semakin memanas antara Iran dan Israel-AS.

Siwanto mengatakan, itikad baik Presiden Prabowo yang berencana maju sebagai mediator, tidak selaras dengan kesan yang diperoleh Iran dari pemerintah Indonesia pasca meninggalnya pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khemenei.

“Iran itu sangat kecewa dengan Indonesia dalam beberapa hal sebetulnya. Kalau yang terbaru tentu terkait dengan perang Iran melawan Israel-AS, dimana Indonesia itu tidak mengecam pembunuhan anak-anak sekolah yang masih kecil-kecil. Pernyataan mengutuk dan mengecam Israel tidak ada sama sekali,” ujar Siswanto.

Di samping itu kata Siswanto, pemerintah RI juga tidak menyampaikan ucapan bela sungkawa di hadapan publik pada hari meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akibat agresi militer AS dan Israel.

“Tidak seperti pemimpin negara lain seperti Malaysia cepat mengeluarkan pernyataan mengecam. Presiden Prabowo terlambat mengucapkan bela sungkawa untuk pemimpin agung Iran.

Hal lain yang membuat Iran kecewa terhadap pemerintah Indonesia adalah, ketika pemerintah Indonesia memutuskan melelang kapal Kargo Iran yang ditangkap di perairan Indonesia pada tahun 2024 silam.

“Pemerintah Iran kecewa karena tidak bisa bernegosiasi tentang keputusan pelelangan kapal tersebut,”kata Siswanto.

Yang lebih mengecewakan kata Siswanto, ketika Presiden Prabowo yang terpengaruh intervensi AS, terkait kegiatan The 5th Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK) Tahun 2025 lalu.

“Padahal Angkatan Laut Iran diundang oleh Indonesia. Namun tiba-tiba ketika sudah sedikit lagi mau masuk ke perairan kita (kapal Iran), Kapal angkatan laut Iran itolak engga bisa masuk sama sekali. Izinnya dicabut. Kenapa? Iran tau bahwa Presiden Prabowo ditekan oleh Amerika untuk tidak membolehkan kapal Iran terlibat dalam Komodo Exercise,”jelas Siswanto.

“Kalau tetap dibiarkan ikut, Amerika akan angkat kaki bersama sekutunya dari latihan gabungan itu,” sambungnya memperjelas tekanan AS ke pemerintah Indonesia.

Atas dasar tiga hal tersebut,  Siswanto memprediksi bahwa Iran sangat kecewa terhadap Indonesia, terutama terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo, apalagi mengingat Indonesia belakangan sudah berada di dalam Board of Peace (BoP) bentukan AS.

“Jadi agak sulit bagi Iran membuka kesempatan kepada Prabowo. Makanya banyak orang bilang, udahlah ngapain. Iran kan nggak mau sama kita. Cuman sepertinya Prabowo mengalami semacam ilusi bahwa dia dibutuhkan oleh Iran. Kehadirannya dibutuhkan oleh Iran,”katanya.

“Saya kira ini tidak tepat. Iran tidak butuh siapa-siapa. Apalagi hari ini Iran kecewa terhadap Indonesia. Iran malah menolak bantuan misalnya dari Rusia, alat-alat perang Korea, bantuan uang dari China, semuanya Iran tolak,”tambahnya.

Lantas ditengah memanasnya perang, Presiden Prabowo datang mencoba menawarkan diri sebagai mediator, menurut Siswanto sangatlah tidak tepat. “Apalagi dalam beberapa hal tadi, Iran sudah sangat kecewa terhadap Indonesia,”pungkasnya.

Penulis: Junaidi P.Hasibuan

LAINNYA
error: Content is protected !!