Mengenang Mayor Madmuin Hasibuan; Pemimpin Pasukan Tempur Tanjung Priok, Pahlawan Kelahiran Sipirok

waktu baca 8 menit
Sabtu, 5 Jul 2025 13:21 52 Suara Netizen

Suaranetizennews,- Bangsa yang baik adalah bangsa yang tidak pernah melupakan jasa pahlawannya. Karena petuah itulah, pada tahun 2021 silam, Walikota Bekasi Rahmat Effendi merasa terpanggil untuk menelusuri jejak makam Mayor Madmuin Hasibuan.

Begitu tiba, dia cukup terenyuh ketika mandapati kondisi makam M.Hasibuan yang berada di belakang Masjid Agung Al-Barkah Jl. Veteran No.46, RT.003/RW.004, Marga Jaya, Kec. Bekasi Selatan Kota Bekasi.

Bagaimana tidak terenyuh, seorang pahlawan yang memimpin pertempuran sengit melawan penjajahan Belanda, kondisi makamnya ditemukan banyak sampah kaleng minuman di atas makam yang tidak terawat.
“Tidak seharusnya seperti ini kita memperlakukan makam pahlawan,”ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Di batu nisan makam tertera tulisan dengan goresan cat hitam yang tidak terlalu rapi berbunyi: M. HASIBUAN. LAHIR: TH. 1922. WAFAT TH. 1961.

“Pak Hasibuan ini adalah tokoh pejuang kota Bekasi yang ada nama Jalan M. Hasibuan di Kota Bekasi. Dia pernah memimpin ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia) bertempur sengit dengan pasukan Belanda. Dialah pimpinan DPRD Bekasi yang pertama, dan dimakamkan di sini, di belakang Masjid Agung Al-Barkah,” kata Pepen sambil memandangi makam M.Hasibuan ini dengan wajah sedih.

Diketahui, Mayor TNI AL Matmuin Hasibuan lahir di Desa Hutapadang, Kec.Sipirok Kab. Tapanuli Selatan, sekitar tahun 1922.

Namun entah mengapa, makam tokoh pahlawan penting bermarga Hasibuan ini ternyata tidak dimakamkan di taman makam pahlawan TMP Kalibata. “Mungkin lantaran wafatnya Tahun 1961, dimana makam pahlawan belum di pusatkan di TMP Kalibata,”ujar Bang Pepen.

Walikota yang akrab disapa Pepen ini pun berjanji akan memugar makam  Pahlawan Mayor M.Hasibuan dan akan memberi penghargaan pada keturunan yang merupakan ahli waris Mayor M.Hasibuan.

Karena itupulalah, Pepen menyematkan  nama M.Hasibuan untuk alun-alun kota Bekasi pada yang dibangun pada Tahun 2022 lalu.

Menelusuri Pertempuran/ Perjuangan Mayor.M. Hasibuan 

Meski namanya tidak terdaftar sebagai nama pahlawan nasional, nama M.Hasibuan banyak ditemukan di sejumlah buku sejarah. Dia wafat di usia muda 39 Tahun, namun hingga kini, informasi mengenai penyebab wafatnya pun masih tidak diketahui.

Menurut Ali Anwar dalam biografi KH. Noer Ali, Kemandirian Ulama Pejuang, M.Hasibuan di zaman pendudukan Jepang merupakan salah satu mandor pelabuhan Tanjung Priok. Bersama adik iparnya, Yakub Gani, dia diundang Presiden Soekarno untuk menyaksikan pembacaan proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur pada 17 Agustus 1945. M.Hasibuan dan Yakub Gani yang juga murid KH Noer Ali, kemudian pulang ke Bekasi untuk menyebarkan berita proklamasi. Sementara, M.Hasibuan diperintahkan Presiden Soekarno dibawah Komando Jenderal A.Haris Nasution, untuk kembali ke Pelabuhan Tanjung Priok memimpin pasukan ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia).

Pasca Proklamasi, Setelah Badan Keamanan Rakyat (BKR) Jakarta lahir pada 27 Agustus 1945 yang dipimpin Moeffreni Moe’min, terjadi mobilisasi kalangan pemuda. Hasilnya adalah susunan seksi-seksi administratif dan tiga sektor lapangan. Bersama Raden Eddy Martadinata, M.Hasibuan yang sudah hafal wilayah pelabuhan, dipercaya Moeffreni memimpin pasukan laut sektor Jakarta Utara Pelabuhan Tanjung Priok.

“Pembagian wilayah dipimpin komandan sektor dari masing-masing wilayah dipegang oleh: Jakarta Pusat; Sadikin dan Soedarsono. Jakarta Timur; Sambas Atmadinata dan Sanusi Wirasuminta. Jakarta Utara; M.Hasiboean dan Martadinata,” tulis Dien Madjid dalam Buku Peperangan Jakarta-Karawang-Bekasi dalam Gejolak Revolusi: Perjuangan Moeffreni Moe’min.

Begitu BKR Laut Pusat didirikan pada 10 September 1945, BKR Sektor Jakarta Utara pimpinan Hasibuan-Martadinata dilebur ke dalamnya. BKR Laut ini kemudian terlibat bentrok dengan pihak Sekutu/Inggris pada pertengahan September 1945.

“Karena sikap serdadu-serdadu Inggris dan NICA sangat angkuh dan sama sekali tidak mau menghargai aparatur pelabuhan RI, maka terjadilah bentrokan senjata antara mereka dengan para pemuda pejuang pimpinan M.Hasibuan di sekitar Menara Air, Stasion (Stasiun Tanjung Priok), dan Zeeman’s Huis (mess pelaut),” ujar tim Dinas Sejarah Militer Kodam V Jaya dalam Sejarah Perjuangan Rakyat Jakarta, Tanggerang dan Bekasi dalam Menegakkan Kemerdekaan R.I.

Pada 6 Oktober 1945, tepat sehari setelah BKR Laut bertransformasi menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Laut, pecah pertempuran pertama antara pasukan M.Hasibuan dengan Sekutu dan NICA (Belanda) di Jembatan Kali Kresek. Walau berskala kecil, pasukan yang dipimpin M.Hasibuan mendapat tambahan kombatan dari pelosok utara Jakarta dan Bekasi. Pasukan M.Hasibuan diceritakan mampu merepotkan Sekutu dan NICA hingga sehari semalaman.

Sampai akhirnya, pertahanan pasukan M.Hasibuan baru bisa dikalahkan Belanda pada keesokan harinya, setelah Sekutu mengerahkan pesawat-pesawat tempur P-40 Warhawk. Pasukan M.Hasibuan lalu menyingkir ke Marunda, Ujungmalang, Kampung Muara, dan Babelan. Di Babelan, mereka berdampingan dengan Laskar Hisbullah pimpinan K.H. Noer Ali.

“Di sepanjang pantai utara dan rawa-rawa di sekitar delta Sungai Citarum terdapat unit dari Tanjung Priok yang dipimpin Mayor Matmuin Hasibuan. Sebagian besar anggotanya adalah orang-orang Batak pemberani, dan menyebut diri mereka ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia). Walaupun mereka bekerjasama dengan Nurali di Babelan, ALRI hanya memiliki sedikit kontak dengan resimen Cikampek dan tidak ada kontak sama sekali dengan markas angkatan laut di Yogyakarta,” tulis Robert Cribb dalam Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949.

Usai Jakarta dijadikan kota diplomasi pada Tanggal 19 November 1945, yang mengharuskan militer keluar dari Jakarta, pasukan M.Hasibuan dan KH Noer Ali turut dalam pertahanan di tapal batas dengan wilayah TKR Resimen V pimpinan Letkol Moeffreni. Area timur Jakarta dan Bekasi jadi wilayah “pengungsian” TKR dan barisan-barisan perjuangan lain.

“Barisan Banteng RI dipimpin M. Husein Kamaly dan M. Thabrani Notosudirjo yang juga menjabat ketua KNI. Ada pula Brigade Macan Citarum yang dipimpin H. Riyan dan Thabrani di Desa Satria. KH. Nur Ali juga mendirikan Markas Perjuangan Hisbullah Sabilillah di Ujungmalang. Sedang BKR Laut (TKR Laut, red.) dipimpin M. Hasibuan bermarkas di Kampung Muara Babakan,” tulis S. Z. Hadisutjipto dalam Buku Bara dan Nyala Revolusi Phisik di Jakarta.

Bentrokan-bentrokan antara laskar-TKR dengan NICA-Sekutu memuncak pada 23 November 1945. Pemantiknya adalah pembantaian tawanan asal Inggris yang selamat dari kecelakaan pesawat Dakota di Rawa Gatal, Cakung. Sepekan kemudian, Jenderal Christison mengerahkan pasukan infantri, artileri, dan kavaleri.

Di Kampung Sasak Kapuk, mereka dihadang dan terlibat pertempuran sengit dengan sekitar 400 pasukan gabungan TKR Batalyon V Bekasi yang dipimpinan M.Hasibuan dan Laskar Hisbullah KH. Noer Ali pada 29 November 1945. Tiada yang menang dalam pertempuran itu.

Diungkapkan tim Dinas Sejarah Militer Kodam V Jaya, pada 5 Desember 1945, M.Hasibuan ditangkap NICA. Sebelumnya, dia dikuntit mata-mata saat berkendara dengan mobil bersama Wedana Tanjung Priok, Hindun Witawinangun, untuk berkoordinasi dengan kantor penghubung TKR di Pegangsaan Timur.

Keduanya jadi sasaran penyiksaan di Kamp Polonia. Hindun akhirnya tewas. Sementara, M.Hasibuan yang dikenal seribu nyawa, mengalami luka-luka parah. Diapun akhirnya diselamatkan para pemuda pejuang yang menolak melakukan pengosongan area Tanjung Priok.

“Pemuda Pejuang akan terus bertahan dan bertempur sekuat tenaga, kecuali jika NICA membebaskan Komandan TKR Mayor Hasibuan dan pejuang-pejuang lainnya yang ditawan Belanda. Ternyata tuntutan para pemuda itu disetujui Belanda dan pada 15 Desember 1945 mereka dibebaskan. Mayor M.Hasibuan kemudian memindahkan markas TKR Laut ke Karang Congok, di utara Bekasi.”

Pada Agustus 1946, pertahanan republik di Bekasi makin mundur ke timur, Tambun, lalu Karawang. Ancaman paling nyata dihadapi Mayor M.Hasibuan dengan pasukan Batalyon III ALRI-nya datang dari utara Bekasi.

“Dalam kegentingan di Tambun ini, pasukan ALRI di bawah Komando Mayor M. Hasibuan mendapat tembakan dari kapal-kapal Belanda pada 22 Agustus 1946 di Ujung Karawang. Sehingga tersiar kabar bahwa musuh akan mendaratkan tentaranya. Demikianlah kita terdesak oleh musuh di dua front: front barat dan timur Jakarta. Di utara Jakarta, dalam komando saya, M.Hasibuan terus melakukan peperangan sengit” kata Jenderal Abdul Haris Nasution dalam Buku Sekitar Perang Kemerdekaan: Diplomasi Sambil Bertempur.

Memasuki Mei 1947, Hisbullah Noer Ali dan ALRI Hasibuan makin terdesak ke Karawang. Di bulan yang sama, mengikuti instruksi Presiden Sukarno agar laskar-laskar dilebur ke kesatuan reguler, pasukan Hisbullah KH Noer Ali menggabungkan diri ke pasukan ALRI Hasibuan yang bermarkas di Rengasdengklok.

Setelah Tambun dan Karawang jatuh ke tangan Belanda pada Agresi Militer I, pasukan ALRI M. Hasibuan mundur ke Pangkalan ALRI Tegal.

Minim Catatan

Pasca-pengakuan kedaulatan oleh Belanda (27 Desember 1949), Hasibuan tak meneruskan kariernya di kemiliteran. Bersama KH. Noer Ali, ia masuk panggung politik. Medio Januari 1950, ia terlibat di Panitia Amanat Suara Rakyat Bekasi yang menuntut pemisahan Bekasi dari Distrik Federal Jakarta di dalam Negara Pasundan, serta mengubah nama Kabupaten Djatinegara menjadi Kabupaten Bekasi.

Ditahun yang sama, M.Hasibuan masuk ke Partai Masyumi cabang Bekasi. Atas Perjuangannya selama memimpin pertempuran dengan Belanda, M. Hasibuan menjadi orang pertama yang dipercaya menduduki jabatan Ketua DPRDS Kabupaten Bekasi, menyusul keluarnya Undang-Undang Nomor 14 tahun 1950 tentang pembentukan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sementara (DPRDS) Tingkat I dan Tingkat II.

Menjelang Pemilu 1955, M.Hasibuan aktif sebagai sekretaris Partai Masyumi cabang Bekasi dan jadi anggota Panitia Pembagian Tanah Sawah Negara Kecamatan Babelan. Ia juga menjadi tameng bagi KH Noer Ali yang dituduh menyerobot tanah oleh PKI.

Namun, setelah itu Hasibuan menghilang dari pentas politik. Nama dan kiprahnya pun ikut memudar. Hanya diketahui, sebagaimana tertulis di pusaranya, Mayor M. Hasibuan wafat pada tahun 1961 dengan tanpa diketahui tanggal, bulan, dan penyebab kematiannya.

Kolonel Heri dari Dinas Sejarah AL (Disjarhal) mengaku belum punya catatan riwayat lengkap Hasibuan. “Karena kita mulai mendata personil itu kan tahun 1949 di zamannya KSAL (Laksamana) Subyakto. Setelah lepas dari ALRI kan ia gabung dengan KH. Noer Ali. Catatan mengenai beliau (Hasibuan) makanya tidak ada di buku personil. Tapi di sumber lain yang dituliskan Pak Ali Anwar ternyata ada. Kadisjarhal juga mendapat informasi tentang ini dari Pak Iwan Ong Santosa,”ujar Kolonel Heri.

Kolonel Heri menyatakan, Disjarhal masih akan melakukan riset lanjutan tentang sepakterjang M.Hasibuan. Selain dari sumber-sumber tertulis, keluarganya juga akan dilacak.

“Bagaimanapun kan beliau bagian dari sejarah ya. Meski di catatan kita enggak ada tapi kan di (buku) sejarah lain banyak memuat tentang dia. Setelah ini akan kita kejar (riset mendalam). Bahwa memang ada lho, BKR Laut di Jakarta yang dipimpin Mayor M. Hasibuan. Yang jelas kami juga ingin menelusuri keluarganya. Setelah itu kelanjutannya akan ada semacam tali asih atau perhatianlah dari kita,” tutupnya.(JunHsb)

LAINNYA