Presiden Prabowo Ambil Hikmah Embargo Iran Persiapkan Diri Menghadapi Perang

waktu baca 2 menit
Jumat, 20 Mar 2026 21:37 113 Suara Netizen

Suaranetizennews,– Presiden Prabowo Subianto mengatakan, dalam konflik antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel,  menunjukkan pentingnya kesiapan jangka panjang. Meminjam istilah Vegetius, Sic vis pacem, para bellum; “Kalau ingin damai, bersiaplah untuk perang.”

Presiden Prabowo Subianto menilai kesiapan menjadi kunci dalam menghadapi konflik, dengan mencontohkan Iran yang disebut telah lama mempersiapkan diri untuk perang.

banner 600x600

“Jadi kalau kita baca sejarah ribuan tahun manusia condong selalu perang. Nah, perang adalah destruktif. Kita mengerti bahwa perang itu sangat jahat. Perang itu destruktif. Perang itu harus kita hindari. at all cost,” kata Presiden Prabowo kala menjawab sejumlah pertanyaan yang disampaikan pakar dan jurnalis di Hambalang, Kamis (19/3/2026).

Presiden Prabowo kemudian mengingatkan bahwa sikap tidak siap justru berbahaya. “Tapi kalau kita terlalu naif, kita terlalu baik, kita enggak mau siap untuk perang, kita enggak mau belajar perang, kita enggak mau perlengkapi diri untuk perang, kita justru akan di diperangi, dihabisi. Itu sejarah dunia,” jelasnya.

Presiden Prabowo juga mengutip pandangan Thucydides.
“The strong will do what they can. The weak suffer what they must. Yang kuat akan berbuat sekehendak hatinya. Yang lemah harus menderita,” kata Presiden.

Presiden ke-8 ini menilai, Iran menunjukkan kesiapan tersebut setelah puluhan tahun menghadapi embargo.
“Jadi di 47 years dia bukan diam, dia benar-benar persiapan mempersiapkan diri,”ujarnya.

“Harus kita akui, Iran itu persiapannya lama. Dan dia sendiri mengatakan, kami sudah siap perang ini sudah puluhan tahun. Dia di-embargo bahkan terkena sanksi. Berapa tahun itu? 47 tahun,” ucap Presiden.

Menurutnya, ada banyak pro dan kontra tentang rezimnya dan sebagainya. Tapi, bahwa dia berani dan siap perang lawan kekuatan sangat besar.

Iran menurut Presiden menyerang sesudah diserang dan mereka punya kemampuannya itu. Jadi, 47 tahun, Iran tidak hanya diam dan benar-benar membangun persiapan.

Meski menghadapi embargo dan sanksi selama puluhan tahun, Iran dinilai mampu membangun kapasitas pertahanan yang signifikan.

Pelajaran utama dari berbagai peristiwa tersebut dikatakan Prabowo adalah, bahwa ketahanan pangan dan kesiapan pertahanan merupakan dua aspek yang tidak terpisahkan dalam menjaga kedaulatan negara.

“Sejarah berulang kali menunjukkan, bangsa yang tidak siap menghadapi krisis ,baik pangan maupun keamanan, akan berada dalam posisi rentan di tengah dinamika global yang semakin kompleks,”katanya.

Presiden melihat pentingnya dalam persiapan. Meminjam pelajaran dari Ahli sejarah Romawi, Vegetius, sekitar 2.500 tahun lalu.

“Sic vis pacem, para bellum. Kalau kamu mau damai, bersiaplah untuk perang,” tegas Presiden.

Penulis: Junaidi P.Hasibuan

LAINNYA
error: Content is protected !!