Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat pertemuan dengan sejumlah lembaga internasional; World Bank atau Bank Dunia, IMF, dan S&P Global Ratings di Washington D.C. Amerika Serikat Jumat 18/04/2026. Suaranetizennews,–Sebelum Purbaya Yudhi Sadewa menjabat Menteri Keuangan RI, sikap pemerintah selalu dan terlalu lunak terhadap Lembaga Moneter Internasional yang biasa disebut IMF. Lembaga yang disetir elit global ini bahkan seenak udelnya mengumumkan peringkat dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Bahkan, IMF suka mendikte kebijakan fiskal APBN Indonesia, melalui proxy tangan kanannya yakni Menteri Keuangan Sri Mulyani, yang pernah menyabet gelar dagelan Menteri Keungan Terbaik Sedunia. “Menteri terbaik dalam menumpuk hutang negara,”kata Andri Supir Ojol saat melepas lelah di kedai kopi.

Nah, di era kepemimpinan Menteri Keuangan Purbaya, sikap IMF dan lembaga keuangan internasional lainnya memilih lebih berhati-hati terhadap Indonesia. “Harap maklum, Purbaya adalah pria, bukan wanita yang bisa disetir.”
Walhasil, sejumlah lembaga keuangan global mulai menunjukkan perubahan sikap terhadap prospek ekonomi Indonesia, setelah sebelumnya sempat melontarkan pandangan yang lebih hati-hati.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, perubahan tersebut terlihat dalam rangkaian pertemuannya dengan sejumlah lembaga internasional seperti World Bank atau Bank Dunia, IMF, dan S&P Global Ratings di Washington D.C., Amerika Serikat.
Perubahan sikap paling mencolok datang dari Bank Dunia, yang sebelumnya menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Purbaya bahkan mengungkapkan bahwa pihak yang menyusun proyeksi tersebut menyampaikan permintaan maaf secara langsung. “Saya ketemu yang memprediksi itu. Dia minta maaf, katanya terlalu cepat menurunkannya,” ujar Purbaya wawancara eksklusif Kompas TV, Jumat (17/4/2026).
Purbaya mengatakan, tidak meminta revisi proyeksi dalam waktu dekat, namun optimistis kinerja ekonomi Indonesia ke depan akan membuktikan penilaian tersebut keliru. Sebab menurut Purbaya, fundamental ekonomi domestik tetap kuat dan mampu meredam gejolak global.
“Fondasi ekonomi kita bagus dan kita akan tumbuh lebih cepat. Walaupun ada gejolak global, kita bisa meredam, jadi ekonomi domestik tetap tumbuh baik,” kata dia.
Sinyal positif juga datang dari S&P Global Ratings. Lembaga pemeringkat tersebut menegaskan peringkat kredit Indonesia tetap stabil dengan outlook yang terjaga.
Purbaya menyebut, konfirmasi ini menjadi indikator bahwa risiko fiskal Indonesia masih dinilai terkendali.
Meski demikian, S&P memberikan catatan terkait rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara yang perlu diwaspadai.
Pemerintah, kata Purbaya, telah memastikan indikator tersebut tetap dalam batas aman seiring perbaikan penerimaan negara.
Indonesia Tak Butuh Dana IMF
Dari sisi IMF, Purbaya mengatakan lembaga tersebut tidak memiliki kebijakan khusus untuk meredam gejolak global, selain menyediakan fasilitas pembiayaan bagi negara yang membutuhkan.
Namun, ia menegaskan Indonesia tidak berada dalam posisi tersebut. Menurut Purbaya, kondisi fiskal nasional masih cukup kuat dengan bantalan anggaran yang besar. Ia menyebut, Indonesia memiliki cadangan fiskal yang jauh lebih memadai dibandingkan skema bantuan yang disediakan lembaga internasional IMF “Pertahanan kita cukup berlapis-lapis dibanding yang lain,” ujarnya.
Purbaya menambahkan, pemerintah tetap berkomitmen menjaga defisit anggaran di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Bahkan, realisasi defisit 2025 diperkirakan berada di kisaran 2,8 persen hingga 2,9 persen, lebih rendah dari kekhawatiran sejumlah pihak sebelumnya.
Purbaya juga menekankan bahwa ketahanan ekonomi Indonesia tidak dibangun secara reaktif, melainkan melalui reformasi kebijakan fiskal dan penguatan penerimaan negara yang telah dilakukan sejak sebelumnya. Pertumbuhan penerimaan pajak yang meningkat signifikan menjadi salah satu penopang utama daya tahan tersebut.
Selain itu, respons positif juga datang dari investor global yang sempat menyimpan keraguan terhadap arah kebijakan ekonomi Indonesia.
Dalam pertemuan terpisah, Purbaya menyebut para investor mulai kembali percaya setelah mendapatkan penjelasan langsung terkait strategi fiskal dan moneter pemerintah.
Purbaya bahkan menekankan bahwa Indonesia memiliki ketahanan fiskal yang kuat dan tidak bergantung pada bantuan lembaga internasional di tengah ketidakpastian global.
Menurut dia, posisi fiskal Indonesia saat ini ditopang bantalan anggaran yang cukup besar, sehingga mampu menghadapi tekanan eksternal tanpa harus mengandalkan bantuan luar negeri. “IMF menyiapkan dana untuk negara-negara yang butuh, saya diam saja. Karena uang saya banyak, karena ada Rp 402 triliun,” pungkas Purbaya sambil tersenyum, sebagaimana dilansir dari Kompas TV.
Penulis: Junaidi P.Hasibuan