Suaranetizennews,- Komjen Imam Widodo tak kuasa menahan air mata. Suara Komandan Korps Brimob itu bergetar saat menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepada keluarga almarhum Affan Kurniawan.
Matanya berkaca-kaca saat mengucapkan belasungkawa atas tragedi yang memicu kemarahan publik dan gelombang protes dari komunitas ojol serta mahasiswa.

Affan Kurniawan merupakan pengemudi ojek online yang tewas terlindas kendaraan taktis (tantis) Brimob saat demonstrasi di Pejompongan, Jakarta Pusat, pada Kamis malam, 28 Agustus 2025.
“Innalillahi wa innailaihi rojiun. Kami atas nama pribadi dan populasi turut berbela sungkawa dengan berpulangnya Saudara Affan. Semoga beliau ditemui setelah besarnya dan mendapatkan surga dari Allah, dan keluarganya mendapatkan kelimpahan dan kesabaran dari Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ucap Imam dengan suara bergetar dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Jumat kemarin.
Jenderal Bintang Tiga itu mengutarakan, sebagai pimpinan pasukan Brimob dirinya bertanggung jawab secara moral atas insiden tersebut dan menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia.
“Saya atas nama pribadi dan selaku Danton Brimob mohon maaf kepada keluarga almarhum dan seluruh rakyat dan masyarakat Indonesia,” ujarnya dengan nada pelan.
Komjen Imam menyatakan bahwa seluruh proses hukum terhadap tujuh anggota Brimob yang terlibat telah diserahkan sepenuhnya kepada Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri.
“Untuk semua proses tentang anggota kami, kami serahkan kepada Divpropam Mabes Polri,” tegasnya.
Profil Komjen Imam Widodo
Sebelum memasuki pendidikan Akademi Kepolisian, Anak muda dari Malang, Jawa Timur ini bercita-cita sederhana. Dia ingin mengabdikan diri untuk bangsa melalui Institusi kepolisian.
Dia bukan lahir dari keluarga besar yang setiap hari berkecukupan. Orang tuanya pun bukan pejabat atau publik figur. Namun, tekad dan kerja keras Imam Widodo membawanya menapaki tangga panjang karier kepolisian hingga kini menyandang pangkat jenderal bintang tiga.
Disaat mengakhiri puncak karirnya, sebagai Komandan Korps Brimob Polri (Dankorbrimob) yang dia emban sejak Oktober 2023, dia justru dihadapkan pada pil pahit pelanggaran kode etik anggota Brimob Polda Metro Jaya yang menyebabkan supir ojol meninggal dunia.
Padahal, selama tiga tahun memimpin satuan elit Brimob Polri, Imam dikenal memimpin dengan tangan dingin yang menjunjung tinggi disiplin, keberanian, dan kesiapan menghadapi ancaman apa pun terhadap keamanan dalam negeri.
Jika memutar kebelakang karir dan prestasinya, perjalanan Imam Widodo menuju puncak tidaklah instan. Ia melewati jalan panjang penuh tantangan, ditempa dalam berbagai operasi lapangan, hingga dipercaya sebagai pucuk pimpinan Brimob.
Siapa sangka menjelang masa pensiunnya bulan September 2025 ini, pria kelahiran Malang ini justru dihadapkan pada cobaan pelanggaran kode etik anggota Brimob yang dipimpinnya.
Bagi Komjen Imam Widodo, saat ini pasukan Brimob bukan hanya satuan tempur, tapi juga wajah Polri ketika menghadapi konflik sosial, unjuk rasa, hingga ancaman keamanan nasional. Tantangan berat di era digital, penyebaran hoaks, dan dinamika politik membuat peran Brimob semakin krusial.
Karena itulah kepemimpinan Komjen Imam Widodo selama ini, dinilai telah mampu membawa Brimob semakin profesional, humanis, dan modern. “Profesional dalam menegakkan aturan, humanis dalam berinteraksi dengan rakyat, dan modern dalam pemanfaatan teknologi serta strategi pengamanan,”ujarnya dalam sebuah kata sambutan kepada jajaran Brimob.
Jika melihat jejak karier Imam Widodo, ada satu benang merah yang selalu tampak. Konsistensi dalam pengabdian. Ia bukan perwira yang instan naik pangkat karena koneksi politik, melainkan seseorang yang ditempa lewat pengalaman panjang di berbagai medan tugas.
Sosoknya sangat pantas menjadi teladan bagi generasi muda polisi. Sebab, bagi Komjen Imam Widodo, jalan menuju puncak bukan hanya lewat kecerdasan akademis, tapi juga lewat disiplin, keberanian, dan integritas.
Hari ini, ketika generasi muda Polisi Brimob melihat seorang Komjen Imam Widodo berdiri tegak memimpin Korps Brimob, maka jangan pernah lupa, dia hanyalah seorang anak muda dari Malang dengan mimpi sederhana. Namun, dedikasi dan komitmen membuatnya sampai di titik ini.
Bagi sebagian orang, pangkat bintang tiga mungkin adalah tujuan. Tapi bagi Imam Widodo, pangkat hanyalah amanah. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana ia menggunakan posisinya untuk menjaga bangsa, melindungi masyarakat, dan memastikan Brimob tetap menjadi pasukan yang dapat dipercaya rakyat.
(JunHsb)