Voice of Baceprot (VoB) ; Trio Gadis Desa Hijaber Yang Mengguncang Dunia

waktu baca 4 menit
Rabu, 21 Mei 2025 12:56 106 Suara Netizen

SNN – Ceritanya mungkin tak seheboh ini, jika mereka bertiga lahir di Singapura. Mereka justru lahir di Singajaya, sebuah desa di pelosok Kabupaten Garut Jawa Barat.

Berasal dari keluarga ekonomi pas-pasan, tak menyurutkan tekad mereka bertiga untuk mengaktualisasikan diri menggapai cita-cita sebagai musisi bank rock terkenal di dunia, sekelas Metalica.

Metalica memang sudah melegenda di dunia. Namun dari segi teknik memainkan gitar elektrik, kemampuan tiga gadis ini tidak bisa dipandang sebelah mata, jika dibanding dengan lima orang personil Band Metalica. Tiga gadis imut mampu menaklukan lagu berjudul “Enter Saidman” yang dimainkan lima orang personil Band Metalica. Sesuatu yang luar biasa…

Mau buktinya? Jika Anda penggemar musik genre metal, cobalah mendengarkan lagu berjudul “Enter Saidman” dari Metalica yang dicover VoB pada saat manggung di Paris Francis.

Ambil handshet, colokin ke handphone, stel volume full. Dijamin rambut Anda akan acak-acakan mendengarkan dentuman drum yang dimainkan Widi, lengkingan gitar elektrik yang dimainkan Marsya dan betapa menggelegarnya bass yang dimainkan Widi.

Band Pertama

Manggung di Paris, jumlah penggemar VoB bukanlah kaleng-kaleng. Ada ribuan bule yang menjadi fans gila mereka di Eropa, yang rela hadir berdesak-desakan, berdiri berjingkrak-jingkrak, sesekali bersiul dan berteriak “Marsya I love you”

Tidak hanya di Paris, selama tiga tahun terakhir VoB sudah keliling dunia, mulai dari Taiwan, Korea, Francis, Inggris, Swiss, Belanda, Belgia hingga ke Amerika.

Disebut mampu mengukir sejarah musik tanah air, VoB dinobatkan sebagai group band pertama Indonesia yang tampil di “Glastonbury Festival” festival musik tahunan terbesar di Inggris yang digelar pada 26-30 Juni 2024.

Ketika diwawancara di sebuah podcash, tiga personelnya, Firdda Marsya Kurnia (vokalis dan gitaris), Euis Siti Aisyah (drummer), dan Widi Rahmawati (bassist), tak menyangka bakal membuat sejarah bagi Indonesia di “Festival Glastonbury” dan berbagi panggung dengan penampil utama seperti Band Coldplay, Dua Lipa, dan Metalica.

Perjuangan Panjang dan Hinaan

Perjuangan tiga gadis ini telah menempuh perjalanan panjang mulai duduk di bangku sekolah menengah atas di desa mereka.

Pada saat duduk di bangku sekolah SMA, kepala sekolah malah pernah mengatakan, bahwa mereka adalah tanda-tanda “Perempuan akhir jaman.”

Di Desa Singajaya mereka dilempari, ketika disuru berhenti bermain musik setan.

Tumbuh di Desa Singajaya, Garut, Jawa Barat, Marsya dan Sitti – keduanya berteman sejak berusia 7 tahun – berteman sejak bangku sekolah dasar. Keduanya kemudian berjumpa dengan Widi, di bangku sekolah menegah pertama – di kantor guru pembimbing sekolah.

Ketiganya gadis ini sering bolos agak bandel, sering dipanggil guru pembimbing lantaran “perilaku memberontak” mereka. Di  ruangan guru pembimbing inilah kecintaan mereka terhadap musik keras mulai berakar.

Mereka menjalin persahabatan dengan guru konseling di sekolah tersebut, Ersa Eka Susila Satia – biasa dipanggil Abah Ersa. “Awalnya kita dengerin musik metal itu dari laptopnya Abah,” tutur Siti.

Siti kemudian menjelaskan bahwa adrenalinnya langsung terpacu saat mendengarkan musik dari laptop guru konselingnya tersebut.

Abah Ersa mengatakan bahwa dirinya menyadari ketiga anak didiknya bukanlah pemberontak seperti remaja lainnya, yang mungkin menggunakan narkoba atau mendapat masalah.

Sebaliknya, menurut Ersa, ketiganya kerap menyuarakan apa yang mereka rasa tak adil di sekolah. “Mereka menentang sistem dan sering bentrok dengan guru mereka. Pernyataan mereka kemudian dianggap provokatif,” tutur Ersa.

Pada 2014 silam, Ersa mendorong ketiga remaja ini untuk mengekspresikan emosi mereka lewat musik.
Dia kemudian mengajarkan mereka cara bermain musik. Dia memperkenalkan Marsya pada gitar, Widi pada bass, dan membuatkan Siti drum dari peralatan musik yang tak digunakan lagi oleh marching band sekolah.

Selain dikucilkan di sekolah, di lingkungan desa mereka juga sama halnya.

“Itu awalnya cuma nyalurin emosi aja karena disebut perempuan gila suka melawan guru,” kata Marsya.

“Karena kami tahu kalau kita protes marah-marah, pasti udah jadi masalah, dituduh radikal sama guru. Kalau di kampung, perempuan-perempuan yang lantang kayak kami main musik metal, disebut udah gila,”ujar Marsya.

Yang membanggakan, kemampuan bahasa inggris tiga gadis ini sangatlah baik, sehingga tidak pernah ada masalah komunikasi dengan fans, ketika manggung di luar negeri. Youtube chanel mereka juga sudah mencapai 14 juta subscribe. Bisa dibayangkan berapa milyar duit yang masuk kantong mereka setiap bulan. (JunHsb)

LAINNYA