Wakil Ketua DPR Fraksi Gerindra Sufmi Dasco Ahmad menerima dan berdialog dengan perwakilan mahasiswa di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Rabu 03/09/2025. Suaranetizennews,- Permohonan maaf, bukanlah hal yang mudah dilakukan oleh pejabat negara sekelas DPR.
Dalam kurun waktu lima dekade terakhir, lembaga wakil rakyat ini nyaris menjadi lembaga super body yang tidak bisa ditegur salah serta diubah pola dan cara kerjanya dalam melakukan fungsi pengawasan terhadap pemerintah.

Barulah kemarin, pada hari Rabu 3 September 2025, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI membuat langkah yang patut diapresiasi, yakni “Pimpinan DPR menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh rakyat Indonesia.”
Permintaan maaf ini disampaikan langsung oleh Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, dalam pertemuan dengan perwakilan BEM mahasiswa di Jakarta pada Rabu, 3 September 2025.
Permohonan maaf memang tidaklah cukup. Oleh sebab itulah permohonan maaf yang disampaikan Ketua Harian Gerindra ini diiringi dengan langkah konkret yang nyata dalam merespon aspirasi masyarakat Indonesia.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban, Dasco yang mewakili pimpinan DPR sepakat untuk melakukan reformasi internal besar-besaran, yang dipimpin langsung oleh Ketua DPR RI Puan Maharani.
Dalam pengumuman yang disiarkan di kanal YouTube resmi DPR RI, Dasco menjelaskan bahwa permintaan maaf ini adalah awal dari sebuah perbaikan menyeluruh.
“Selaku pimpinan DPR, kami menyatakan permohonan maaf atas kekeliruan serta kekurangan kami sebagai wakil rakyat dalam menjalankan tugas dan fungsi yang mewakili aspirasi masyarakat,” ucap Dasco.
Sebagai bagian dari tindaklanjut permohonan maaf, Dasco membeberkan poin-poin evaluasi yang telah disepakati. Salah satunya adalah penghapusan tunjangan perumahan anggota DPR.
Langkah ini mulai berlaku sejak tanggal 30 Agustus 2025. Penghapusan tunjangan ini menjadi sorotan utama, mengingat isu fasilitas dan tunjangan anggota dewan sering kali memicu polemik di masyarakat.
Selain itu, DPR juga sepakat untuk menerapkan moratorium kunjungan kerja ke luar negeri bagi seluruh anggotanya.
Langkah ini dinilai sebagai respons terhadap kritikan publik yang selama ini menganggap kunjungan ke luar negeri sering kali tidak efektif dan hanya menghabiskan anggaran.
“Kami telah berkoordinasi dengan seluruh pimpinan DPR untuk melakukan evaluasi. Reformasi ini akan dipimpin langsung oleh Ketua DPR Puan Maharani untuk DPR yang lebih transparan,” tambah Dasco.
Harapan Baru DPR Yang Lebih Merakyat
Keputusan DPR yang bersedia menyampaikan permohonan maaf, lalu memutuskan menghapus tunjangan perumahan dan menghentikan kunjungan kerja ke luar negeri, adalah langkah konkrit perubahan nyata yang semestinya patut diapresiasi.
Langkah-langkah yang diambil DPR ini diharapkan bisa menjadi titik balik untuk melakukan perubahan dan mengembalikan kepercayaan publik.
Efisiensi kunjungan kerja di dalam negeri juga akan diperketat sebagai bagian dari upaya reformasi.
Paling tidak, langkah ini menunjukkan adanya niat serius untuk mendeklarasikan perubahan lembaga DPR kearah yang lebih baik.
Kedepan, publik tentunya menunggu aksi nyata dan konsistensi dari janji-janji evaluasi dan perbaikan lembaga perwakilan rakyat ini.