Dr. Sofyan A. Djalil, S.H., M.A., M.ALD, dikenal sebagai akademisi, konsultan hukum ekonomi, dan politikus Indonesia, pernah menduduki berbagai posisi jabatan menteri Presiden SBY dan Presiden Jokowi. Suaranetizennews,- Tekad belajarnya sangatlah kuat. Harap maklum, dia sadar betul berasal dari keluarga sederhana. Karena itulah pria kelahiran Aceh Timur ini memilih merantau ke Jakarta, demi sebuah cita-cita menimba ilmu sampai keluar negeri, setelah lulus dia pun mengabdikan diri kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.
Semasa kecil, Sofyan panggilan akrabnya diketahui rajin berjualan terlur untuk menambah biaya hidup, sembari belajar di sekolah dasar dan sekolah menengah yang dia selesaikan di Aceh.

Pada tahun 1976, dalam usia 23 tahun, dia berangkat ke Jakarta untuk menghadiri kegiatan Muktamar Nasional Pelajar Islam Indonesia (PII). Sejak itu, ia memilih tetap tinggal di Jakarta.
Berbagai kerja serabutan dia lakukan. Dia pernah menjadi kondektur metromini dan menjadi pengurus masjid Pusdiklat Kejaksaan Agung, Jakarta.
Tiada hari tanpa kuliah dan kerja. Usai bekerja di pagi hari, ia lanjutkan kuliah di sore hari, di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, bidang studi hukum bisnis.
Diapun lulus pada tahun 1983, menggondol gelar sarjana hukum pada usia 30 tahun. Setelahnya, dia ikut lembaga kajian, dan mendapatkan beasiswa ke luar negeri untuk meraih gelar master dan doktor di Tufts University, Medford, Massachusetts, Amerika Serikat.
Berbekal pendidikan yang dimiliki, pintu sukses mulai terbuka untuk Sofyan. Mulai menjadi dosen, peneliliti, konsultan, hingga menjadi komisaris berbagai perusahaan lokal dan mancanegara.
Sofyan juga menjadi menteri beberapa kali. Ia menjadi menteri komunikasi dan informatika (2004-2007) dan menteri negara BUMN (2007-2009) pada kabinet Indonesia Bersatu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Setelahnya, lama tidak terdengar nama Sofyan di pentas nasional. Hingga pada tahun 2014 namanya muncul kembali pasca Pilpres 2014. Presiden terpilih Jokowi menunjuknya menjadi menteri Koordinator bidang perekonomian dalam Kabinet Kerja 2014-2019.
Namun, belum setahun kabinet ini berjalan, Sofyan dipindah menjadi Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) atau Kepala Bappenas periode 2015-2019. Lagi-lagi, pada pertengahan 2016, ia kembali digeser menjadi Menteri Agraria dan Tata Ruang. Sofyan, dalam dua tahun di kabinet Jokowi, menduduki tiga kali posisi jabatan menteri.
Prinsip Hidup
Sebagai seorang tokoh yang sudah malang melintang di dunia bisnis dan pemerintahan, Sofyan mengatakan modal bagi anak muda adalah, dia hanya perlu mendengar dan terus belajar.
Namun modal tersebut harus dibarengi dengan satu prinsip, yaitu “hari besok harus lebih baik dari pada hari ini.” Selalu ada nilai tambah dan pencapaian setiap hari. “Orang yang hari ini lebih baik daripada kemarin, itulah orang yang paling beruntung,”ujarnya.
Bicara soal keberuntungan, cerita perjuangan Sofyan ternyata tak seindah kesuksesan yang diraihnya. Dari mulai menjadi honorer guru agama di sebuah sekolah dasar, buruh pabrik karet, hingga menjadi penjaga mesjid.
Profesi penjaga Masjid dilakoninya ketika merantau ke Jakarta lantaran tidak memiliki pekerjaan. Bekerja Penjaga masjid sekaligus pengajar Rohani Islam. “Saya tinggalkan Aceh, merantau ke Jakarta. Enggak ada kerjaaan, nganggur, tidur di Masjid, habis baju dijual. Tapi akhirnya kerja mengajar Rohis di Kejaksaan Agung (Kejagung),”kenang Sofyan mengingat masa lalunya.
Sebelumnya dia bahkan pernah jadi kondektur metromini di Jakarta.
Memulai hidup yang penuh perjuangan di Jakarta, namun jerih payah dan kegigihannya menggapai asa, membuatnya bisa berkuliah di Universitas Indonesia.
Setelah lulus sarjana dari Universitas Indonesia, Sofyan menimba ilmu dan mendapat gelar Master of Arts-nya di Tufts University, Medford, Massachusetts, Amerika Serikat, bidang studi Public Policy, pada tahun 1989.
Dua tahun kemudian, dia menamatkan Master of Arts in Law and Diplomacy (M.A.L.D.) di universitas yang sama untuk bidang studi International Economic Relation.
Lalu pada tahun 1993, Sofyan berhasil memperoleh gelar Doctor of Philosophy dalam bidang studi International Financial and Capital Market Lawstudi and Policy di Tufts University Amerika Serikat.
Ada satu prinsip yang menarik dari Sofyan. Dia mengaku selama merantau dimanapun, kerap menerapkan prinsip selalu menciptakan nilai tambah kepada lingkungan kerjanya. Karena itulah Sofyan menghimbau pada pemuda Gen Z, terutama mahasiswa, agar selalu meningkatkan ilmu pengetahuan dan kapasitas diri.
Menurutnya, perubahan dunia di era digital saat ini, harus disikapi dengan pemikiran yang optimis. Sebab era digital saat ini telah membuka banyak peluang sekaligus tantangan. “Segala tantangan dan peluang ini harus dihadapi dengan kreatifitas, sikap fleksibilitas, serta open minded (berpikir terbuka),”ungkapnya.
Sofyan lantas memberikan petuah, jika ingin sukses dalam persaingan, salah satu yang patut ditonjolkan adalah attitude (tingkah laku).
“Sejauh mana kamu bisa berkembang, tergantung sikapmu. Jika sikapmu ekstrim, tidak toleran, maka kamu tidak bisa pergi kemana-mana. Karena watak itu merupakan masa depanmu,” pungkasnya.
Penulis:
JUNAIDI P.HASIBUAN