Oleh. : Agus Widjajanto
Suaranetizennews,- Reuters pada senin ( 16/6) melaporkan, Kapal Induk Amerika Serikat, USS Nimitz meninggalkan Samudera Pasifik Menuju Timur Tengah, Kapal induk Nimitz adalah kapal induk yang mampu membawa hingga 60 Jet tempur F35 dan 5000 Personel, selain itu dari sumber yang sama dari Reuters sejumlah Alutsista telah dikirim Amerika Serikat ke Timur Tengah, untuk memperkuat kekuatan udara mereka. Analisis dari Dyami Security intelegence, Eric Schouten menyatakan pengerahan kapal induk dan alutsista strategis ini jelas merupakan kesiapan strategis untuk memposisikan Amerika Serikat pada eskalasi cepat. Dalam relest sebelum nya Amerika Serikat melalui juru bicara gedung putih menyatakan bahwa USA dalam posisi defensif ( bertahan ) terhadap pangkalan pangkalan militer nya di timur tengah , mesti telah terjadi saling serang antara Iran dengan Israel.
Memasuki hari kelima sejak serangan balik Iran ke kota Tel Aviv dan Haifa dan kota kota lain, Rudal berpeluru kendali strategis Iran telah memuntahkan seranganya, dimana telah terjadi kehancuran di bangunan bangunan strategis dan perumahan penduduk, dimana Iran beranggapan berhak membela diri nya atas serangan yang dilakukan Israel pada tgl 13 Juni 2025 yang lalu. Dan tidak akan berhenti hingga Israel menyerah mengibatkan bendera putih.
Di eropa sendiri ada tanda tanda Jerman akan ikut serta melakukan embargo senjata terhadap Israel menyusul spanyol dan Swedia atas tindakan Israel terhadap Gaza dan serangan terhadap Iran. Jerman belum sepenuhnya melakukan embargo senjata terhadap Israel, tetapi Kanselir Jerman Friedrich Merz telah mengkritik tindakan Israel di Jalur Gaza dan menyatakan bahwa membahayakan penduduk sipil tidak dapat dibenarkan sebagai bentuk perlawanan terhadap terorisme Hamas. Merz juga menyatakan bahwa Jerman harus lebih menahan diri dalam memberikan nasihat publik kepada Israel, tetapi ketika perbatasan dilintasi dan hukum humaniter internasional dilanggar, Jerman harus bersuara.
Beberapa negara Eropa lainnya telah mengambil langkah-langkah untuk memberlakukan embargo senjata terhadap Israel, seperti:
– *Spanyol*: Parlemen Spanyol telah memutuskan untuk mempercepat pengesahan RUU embargo senjata terhadap Israel sebagai tanggapan atas operasi militer Israel di Jalur Gaza.
– *Swedia*: Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson telah menyerukan sanksi atas Israel dan meminta Uni Eropa untuk menjatuhkan sanksi dan memberikan tekanan diplomatik kepada Israel untuk mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza.
Sedang kan Amerika Serikat sendiri didalam negeri, Publik Amerika tampaknya tidak sendiri dalam skeptisisme tentang keterlibatan AS dalam konflik melawan Iran atas permintaan Israel. Menurut informasi yang tersedia, Amerika Serikat sendiri telah menyatakan bahwa mereka tidak akan ikut campur dalam serangan balasan yang direncanakan oleh Israel terhadap Iran. Ini menunjukkan bahwa pemerintah AS mungkin juga mempertimbangkan dengan hati-hati keterlibatan mereka dalam konflik tersebut
Namun, tanpa data spesifik tentang opini publik Amerika mengenai isu ini, kita hanya bisa berasumsi berdasarkan pernyataan pemerintah. Mungkin ada beberapa alasan mengapa publik Amerika tidak menyetujui keterlibatan AS dalam perang melawan Iran, seperti:
– *Risiko eskalasi konflik*: Perang melawan Iran bisa memicu reaksi berantai dan meningkatkan ketidakstabilan di Timur Tengah.
– *Dukungan terhadap Israel*: Meskipun AS memiliki hubungan dekat dengan Israel, publik Amerika mungkin tidak sepenuhnya mendukung keterlibatan AS dalam perang yang dipicu oleh Israel.
– *Prioritas kebijakan luar negeri*: Publik Amerika mungkin lebih memprioritaskan isu-isu kebijakan luar negeri lain, seperti perdagangan atau keamanan nasional, daripada keterlibatan dalam konflik regional.
Untuk mengetahui secara pasti bagaimana opini publik Amerika tentang isu ini, perlu dilakukan survei atau analisis lebih lanjut
Informasi intelhen Iran sendiri yang belum dikonfirmasi menganalisa, dan dari keterangan pilot F35 Israel, bahwa justru titik serangan Israel menggunakan Pesawat Pembom strategis dan F35 menggunakan wilayah udara Yordania, Suriah, dan Irak untuk membombardir Iran pada tanggal 13 Juni 2025 yang lalu.
Informasi tentang pesawat F-35 Israel yang menyerang Iran dari pangkalan Yordania dan Suriah yang berbatasan langsung dengan Iran tidak dapat diverifikasi secara langsung. Namun, Iran telah mengklaim berhasil menembak jatuh tiga jet tempur siluman F-35 milik Angkatan Udara Israel (IAF) dalam sebuah serangan udara
Dalam insiden tersebut, dua pilot F-35 Israel dilaporkan selamat dan kini berada dalam tahanan Iran. Penembakan ini diyakini terjadi selama misi serangan Israel ke sejumlah target di wilayah Iran, termasuk fasilitas nuklir yang dijaga ketat seperti Natanz.
*Kemungkinan yang Terjadi:*
– *Penyerangan dari Berbagai Arah*: Meskipun tidak ada informasi spesifik tentang pangkalan Yordania dan Suriah, Israel dikenal memiliki kemampuan untuk melakukan serangan udara dari berbagai arah dan pangkalan.
– *Kemampuan Pertahanan Iran*: Keberhasilan Iran menembak jatuh F-35 menunjukkan kemampuan pertahanan udara Iran yang efektif dalam menghadapi serangan udara Israel.
*Dampak dari Insiden:*
– *Kerugian Materi dan Simbolik*: Penembakan F-35 dapat menimbulkan kerugian materi dan simbolik bagi Israel, serta mempertanyakan efektivitas armada tempur ini.
– *Risiko Kebocoran Teknologi*: Iran berpotensi memperoleh data rahasia terkait performa stealth, sinyal radar, dan sistem persenjataan F-35, yang dapat digunakan untuk pengembangan sistem anti-F-35.
Menilik dari pengiriman kapal induk Nimitz dan senjata strategis lanya oleh Amerika Serikat pada hari Senin menuju timur tengah, mungkin saja benar sebagai upaya Defensif pangkalan pangkalan Amerika yang ada ditimur tengah dari serangan Iran, akan tetapi kita tidak pula bisa menduka pasti, bisa saja justru merupakan persiapan untuk turut serta melakukan serangan terhadap Iran melalui pemboman serangan udara total terhadap Teheran dengan asumsi sejak awal Amerika Swrikat telah merestui serangan Israel ke Iran dengan menggunakan wilayah udara Yirdania, Irak dan Suriah , untuk membantu Israel. Apabila ini terjadi maka dapat dipastikan, skala peperangan akan makin besar dan dapat menyeret kepentingan negara negara besar lain seperti Rusia, China Tiongkok, Pakistan, Yaman, Untuk ambil bagian dalam peperangan tersebut yang akan mengakibatkan meletusnya perang Global antar kelompok, seperti sejarah dalam perang dunia ke dua.
Melihat awal dari serangan Israel pada tgl 13 Juni 2025, lalu tampaknya sangat sulit disrkesaikan secara perundingan deplomatik , karena Iran telah bertekad akan menggempur Israil secara total dan tidak ada ampun , untuk mengakhiri segala tindakan Imperalisme di timur tengah.
Hanya ada dua skenario, Israel jatuh karena Amerika Serikat tidak mau membantu dalam perang Skala besar baik serangan udara dan darat, atau Iran akan jatuh karena bergabung nya koalisi Amerika dalam perang ini membantu Israel, yang akan menyeret perang besar antar koalisi militer dari negara negara lain, hal ini dikarenakan sejak awal Israel salah berhitung soal kekuatan militer Iran dengan melakukan serangan terlebih dahulu ke Iran pada tanggal 13 Juni lalu, yang berharap Iran akan lumpuh secara militer dan diskenariokan akan diganti Rezim iran dengan Rezim yang bisa kerjasama dengan israel dan Amerika Serikat, seperti suriah, Iran, Yordania, Qatar, Emirat Arab, dimana serangan udara israel dengan kekuatan 200 Pesawat tempur tersebut merupakan akumulasi puncak dari serangan serangan sporadis berupa pemboman dron dan pesawat tempur jarak jauh yang menewaskan jendral jendral Iran di wilayah timur tengah oleh Israel dan sekutunya.
Penulis adalah pemerhati masalah sosial politik, hukum dan sejarah bangsa nya, tinggal di jakarta.
(RL)