Anomali Lesunya belanja Masyarakat  Menjelang Lebaran.

waktu baca 3 menit
Jumat, 14 Mar 2025 15:41 78 Suara Netizen

Suaranetizennews– Tinggal dua  minggu lagi kita akan memasuki Hari Raya Idulfitri 1446.

Menjelang lebaran para orang tua harus menyiapkan budget untuk persiapan lebaran. Mulai dari membeli pakaian anak-anak, beli daging, kue, sirup hingga harus membayar zakat.

Hingga awal Maret 2025, tender fisik dan non fisik pemerintah belum ada. Penyedia jasa (rekanan swasta) pun belum beraktfitas.

Padahal setiap penyedia jasa memiliki ratusan tenaga kerja.
Buruh bangunan, tukang kayu, tukang batu, sopir dan buruh kasar lainnya, praktis juga nganggur.

Belum lagi gelombang PHK terus terjadi, ditambah kebijakan pemerintah belum memperlihatkan manfaat yang berarti bagi masyarakat, turut membuat kondisi perekonomian semakin buram.

Anomali (ketidak-biasaan) kondisi perekonomian saat ini,  belanja masyarakat justru tidak mengalami kenaikan menjelang lebaran. Padahal trend umum yang berlaku jika kondisi ekonomi baik-baik saja, belanja masyarakat naik tinggi  menjelang lebaran dan pada saat lenbaran.

Menurut pengamat ekonomi Jro Gde Sudibya permasalahan ekonomi yang morat-marit saat ini akibat terjadinya PHK di mana-mana, dalam jumlah puluhan ribu orang, terutama di industri tekstil, yang sudah tentu membawa dampak berganda (multiplier effect) ke industri lainnya, seperti: transportasi, sewa rumah dan ekonomi rakyat secara umum.

Kedua dia katakan, Indikasi penurunan daya beli sangat tampak, dari data statistik beberapa waktu lalu, terjadi deflasi selama 5 bulan berurutan, gambaran dari lesunya daya beli masyarakat.

Ketiga dia jelaskan bahwa data statistik yang disampaikan BPS, selama 5 tahun terakhir, 2019 – 2024, angka kelas menengah berkurang 10 juta orang, turun kelas sosial menjadi kelompok yang rentan menjadi miskin. Di samping sekitar 60 persen angkatan kerja bekerja di sektor informal, dengan produktivitas rendah, penghasilannya tidak pasti, tanpa jaminan sosial.
“Angka agregat yang menggambarkan turunnya daya beli masyarakat di kelompok sosial ini,” ujarnya.

Jro menambahkan, di tengah lesunya ekonomi, berkembang isu dashyatnya korupsi, tuntutan mahasiswa dengan tagar Indonesia Gelap, kontroversi pendirian Danantara, persepsi publik tentang kabinet gemuk, boros dan tidak efektif, membuat pelaku usaha, investor, “wait and see” dalam melakukan ekspansi usaha dan investasi. “Akibatnya pertumbuhan ekonomi tertekan, kesempatan kerja baru mandek,”ujarnya.

Jro menyarankan agar pemerintah fokus pada perbaikan ekonomi kerakyatan  melalui pengembangan UMKM. “Pemerintah tidak usah banyak omon-omon soal Danantara, fokus pada perbaikan ekonomi rakyat, itu saja,” tandasnya.

Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, menilai perputaran ekonomi Indonesia sebelum Ramadan 2025 memang agak lesu. Terlihat dari deflasi dua bulan beruntun yang terjadi pada Januari dan Februari 2025.

Menjelang puncak Ramadhan yaitu Hari Raya Idul Fitri, kinerja penjualan ritel di Indonesia justru melemah pada Februari bulan lalu.

Lesunya penjualan ritel ini semakin mempertegas potret kelesuan konsumsi dan daya beli warga Indonesia yang tengah menghadapi buruknya kondisi ekonomi akibat sulitnya lapangan pekerjaan dan gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang makin meluas.

Menteri Keuangan Sri Mulyani membantah kondisi ekonomi yang lesu. Dia mengatakan terjadinya deflasi lantaran adanya insentif pemerintah semisal potongan harga listrik kepada kaum lemah.

Disisi lain, Menteri terbaik sedunia ini malah mengakui APBN tekor karena penerimaan pajak menurun.

Nah, logikanya Bu, jika pemerimaan pajak berkurang, itu karena daya beli masyarakat menurun, penjualan pengusaha menurun, tidak mampu bayar pajak.(Junhsb)

LAINNYA