Mercusuar yang nmapak kokoh menjulang tinggi ke angkasa meski dibangun pada tahun 1885 Suaranetizennews – Pantai Anyer di Serang, Banten, yang terkenal dengan keindahannya ternyata memiliki objek wisata sejarah berupa mercusuar. Dari menara tersebut, sejauh mata memandang eksotisme Pantai Anyer yang mempesona akan nampak jelas, terlebih di waktu senja kala matahari akan kembali ke peraduannya.
Gemuruh deburan ombak serta semilir angin yang berhembus menyapu pesisir menambah pesona pantai yang juga dikenal dengan sebutan Kuta-nya Jawa ini. Ketika itu, Sabtu sepekan silam kami baru saja tiba.

Di upuk barat di atas laut Selat Sunda nampak matahari mulai tenggelam dengan perlahan menuju peraduannya. Sementara di bibir pantai nampak puluhan wisatawan berbondong-bondong berjajar menyaksikan indahnya senja (sunset).
Tidak jauh dari bibir pantai, nampak menara mercusuar bercat putih menjulang tinggi keangkasa. Gerbang menara setinggi 75,5 meter dengan 18 lantai ini sudah nampak dari jalan.
Suasana nampak ramai, mungkin waktu itu karena akhir pekan. Di bawah pohon nyiur yang daunnya melambai-lambai tertiup angin nampak beberapa pasang muda-mudi, yang juga sedang menikmati indahnya senja. Dari halaman depan, siluet mercusuar terlihat indah dengan latarbelakang sinar matahari yang kekuning-kuningan serta pohon-pohon nyiur. Tidak sabar ingin segera naik, kami pun segera membayar tiket.
Dibutuhkan tanaga ekstra, karena mercusuar yang juga dikenal sebagai mercusuar Cikoneng ini memiliki 286 anak tangga. Meski demikian, rasa lelah dan cape akan terbayarkan dan seolah sirna begitu saja ketika sampai ke lantai terakhir 18, menyaksikan indahnya suasana senja Pantai Anyer dari atas, apalagi saat itu cuaca sedang cerah.
Perahu-perahu nelayan di tengah pantai, di balik matahari tinggal separuhnya yang tenggelam ke laut dan sinarnya merah jingga membentuk pemandangan yang menakjubkan. Berwiasata ke Pantai Anyer dan menaiki mercusuar dikala senja menjelang, merupakan pengalaman yang tidak ada duanya dan menakjubkan.
Seperti diketahui, mercusuar yang dibangun tahun 1885 dan berfungsi untuk arah navigasi kapal-kapal di Selat Sunda ini, merupakan bukti sejarah atas dimulainya pembangunan Jalan Anyer – Panarukan sepanjang 1.806 kilometer, dimana mercusuar tersebut sebagai kilometer 0 (hingga sekarang masih berfungsi).
Sang Gubernur Hindia Belanda, Jenderal Deandles, yang kala itu tengah berkuasa menerapkan sistim rodi (kerja paksa) dalam mengerjakan proyek jalan pertama di Pulau Jawa ini, sehingga korban dari rakyat Indonesia banyak berjatuhan.
Pada awalnya mercusuar ini dibangun dengan batu bata, namun kemudian hancur karena letusan gunung Krakatau pada tahun 1883. kini sisa-sisanya masih terlihat pada pondasinya.
Dua tahun kemudian, atau tepatnya tahun 1885 mercusuar dibangun kembali dengan konstruksi baja. Oleh pemerintahan Hindia Belanda mercusuar ini digunakan untuk menentukan arah mata angin di Selat Sunda dan menentukan batas daratan dan lautan, serta sebagai rambu penerangan kapal-kapal pedagang VOC yang berlayar melintasi Selat Sunda, sebagai jalur pelayaran internasional pada abad 18.
Dalam perkembangannya mercusuar ini tidak hanya menjadi saksi sejarah kekejaman penjajahan Belanda, tetapi juga menjadi bukti sejarah kejadian alam saat meletusnya Gunung Krakatau di selat Sunda tahun 1883, yang menimbulkan gelombang tsunami maha dahsyat. Meski usia mercusuar yang di depannya tertulis prasasti ‘ZM Willem III’ ini sudah lebih dari 120 tahun, namun kondisinya masih berdiri kokoh dan nampak megah. Tapi sayang di balik kemegahannya itu, rata-rata wisatawan yang berkunjung ke Pantai Anyer tidak mengetahuinya, kalau di dalamnya tersimpan peradaban sejarah masa silam.
Ruli Harahap