Brand “Lamoria”  Kerja Nyata Kalapas Perempuan Kelas IIA Bandung Merevolusi Mental Kemandirian Warga Binaan

waktu baca 3 menit
Minggu, 1 Nov 2026 18:33 9 Suara Netizen

Suaranetizennews,–Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Bandung  membangun sebuah brand  bernama “Lamoria” yang akan menjadi identitas utama  seluruh produk hasil karya warga binaan.

Sejatinya, brand Lamoria ini diluncurkan untuk merevolusi mental kemandirian para warga binaan. Melalui brand Lamoria,  warga binaan  ditargetkan memiliki jiwa kemandirian, agar lebih siap menjalani kehidupan sehari-hari pasca menjalani masa tahanan.

banner 600x600

Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung, Rika Aprianti menjelaskan filosofi Lamoria. Dia berharap ketika masyarakat mendengar kata  “Lamoria” maka yang timbul dalam pikirannya adalah  betapa enaknya kuliner, indahnya fashion, dan indahnya tanaman hias, serta hasil karya warga binaan Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung.

“Kami berharap, ketika Lamoria  menjadi merk atau identitas, hal itu akan selalu diingat masyarakat tentang  bagaimana enaknya kulinernya, indahnya fashionnya, dan indahnya tanaman dekorasi,”kata Rika dikutip dari keterangan tertulis Minggu 01/11/2026.

Untuk mengembangkan brand Lamoria ini, Rika mengaku memiliki 13 Pos Kerja dan 13 kelas kerja yang siap menghasilkan produk kuliner, fasion, hasil pertanian dan ketahanan pangan.

“Kami punya 13 pos kerja, 13 kelas kerja mulai dari bidang kuliner, fashion, sampai pertanian dan ketahanan pangan,”tambah Rika.

Salah satu produk kuliner yang menjadi ciri khas  Lamoria adalah Tape atau Peuyeum.
Rika menyebut, tape sangat identik dengan Kota Bandung. “Dulu, setiap orang pulang dari Bandung pasti ditanya mana oleh-oleh tapenya,”ujar Rika.

Namun kini lanjut Rika, branding oleh-oleh tape khas Bandung, sudah mulai menghilang, dikarenakan kalah bersaing dengan varian oleh-oleh lainnya.  “Karena itulah kami dari  Lapas Perempuan Bandung, mencoba memproduksi  tape sebagai oleh-oleh khas  dari Bandung,”imbuhnya.

Selain tape, brand Lamoria juga memproduksi berbagai produk kuliner yang diyakini dapat bersaing dipasaran. Diantaranya,  saos, sosis solo, dan makanan cemilan. “Kami akan menciptakan beberapa  produk kuliner yang menjadi brand dan ciri khas merk Lamoria,” jelasnya.

Lamoria Paviljoen

Nah, bagaimana dengan pengembangan pemasarannya? Rika  mengatakan, saat ini pihaknya sedang mempersiapkan pembukaan Lamoria Paviljpen, yang lokasinya berada di depan Lapas Kelas IIA Perempuan Bandung.  Ditarget, paviljoen ini akan dibuka pada pertengahan November 2026 ini.

Rika menambahkan, Lamoria Paviljoen memiliki konsep kafe, namun bukan seperti kafe biasa, lantaran memiliki banyak produk lain yang tersedia di dalamnya.

“Di Lamoria Paviljoen nanti selain kuliner, kami juga akan menjual produk-produk fashion, craft, dan produk pertanian seperti tanaman hias,”tambahnya.

Kabarmya Lamoria Paviljoen memiliki aksen gaya  Belanda.  “Karena bangunan Lapas ini tidak bisa lepas dari sejarah kolonial Belanda,” jelas Rika.

Dalam pelaksanaannya, dijelaskan Rika bahwa Lamoria Paviljoen akan menjadi rumah bagi reintegrated community,  yakni rumah bagi komunitas terintegrasi antara petugas, warga binaan, dan masyarakat.

Konsep ini dipilih, lantaran sesuai dengan kebutuhan  warga binaan dan masyatakat sekitar. “Bahkan ada beberapa warga binaan yang bertanya, apakah setelah bebas  dia bisa bekerja di Lamoria Paviljoen,”ungkap Rika.

Manajemen Profesional

Meski terbilang baru memulai, dari sisi bisnis, ternyata program ini sudah menunjukkan hasil nyata yang menghasilkan cuan yang menguntungkan.

Rika menjelaskan, pihaknya tidak hanya berproduksi, tetapi juga telah mempersiapkan manajemen keuangan yang profesional, mulai dari perhitungan HPP (harga pokok produksi) hingga target keuntungan.

“Manajemenmya kami bangun secara kolaboratif, antara petugas dan warga binaan yang memiliki latar belakang beragam, jangan salah warga binaan itu ada mantan pengusaha dan ada mantan direktur keuangan, ” terang Rika.

Rika mengungkapkan, sejak tanggal 3 Oktober sampai 20 Oktober, omset dari produk kuliner yang diperoleh sudah mencapai  Rp 150 juta.

“Itu baru dari dua pos kerja. Bayangkan kalau 13 pos kerja semua berkembang, apalagi nanti kalau Lamoria Paviljoen sudah buka, kami yakin omsetnya jauh lebih besar,”pungkasnya.

Penulis: Junaidi P.Hsb

LAINNYA
error: Content is protected !!