Gelar Pahlawan Nasional Kepada Soeharto, Wujudkan Rekonsiliasi Damai

waktu baca 3 menit
Senin, 10 Nov 2025 19:01 104 Suara Netizen

Suaranetizenews,- Presiden Prabowo Subianto resmi memberikan gelar pahlawan nasional kepada Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto. Diketahui, Presiden ke-2 RI, Soeharto menjadi satu dari 10 tokoh yang diberikan gelar pahlawan nasional di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/11/2025).

Penganugerahan itu diberikan langsung kepada ahli warisnya yang hadir di Istana, yakni Bambang Trihatmodjo dan Siti Hardijanti Rukmana.

banner 600x600

Soeharto dikategorikan sebagai pahlawan bidang perjuangan. Ia diberikan gelar lantaran perjuangannya menonjol sejak masa kemerdekaan.

Penganugerahan ini didasarkan pada Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2025 yang ditetapkan pada 6 November 2025.

Presiden ke-2 RI, Soeharto menjadi satu dari 10 tokoh yang diberikan gelar pahlawan nasional di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/11/2025).

Wujud Rekonsiliasi Damai

Pemberian Gelar Pahlawan kepada Soeharto memunculkan pro dan kontra. Meski demikian, selama  32 Tahun memimpin NKRI,  Soeharto dinilai telah memberikan kontribusi nyata terhadap kemajuan negeri ini.

Dukungan positif datang dari Guru Besar Bidang Resolusi Konflik dan Damai Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) Prof Abdul Haris Fatgehipon.

Dia menuturkan Soeharto layak diberikan gelar pahlawan nasional atas jasa dan pengabdiannya dalam membangun bangsa, terutama dalam bidang pertanian, ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.

Dia mengajak masyarakat merenungkan kembali makna kepahlawanan dari sudut pandang spiritual dan moral. “Gelar pahlawan bukan sekadar simbol melainkan pengakuan atas dedikasi yang memberi manfaat besar bagi rakyat dan negara,”ujarnya.

Haris mengatakan, para pahlawan sejati, termasuk Pak Harto tidak membutuhkan gelar. “Yang paling penting adalah doa, penghargaan, dan penerusan semangat perjuangan oleh generasi penerus,” ujar Haris.

Menurutnya, Soeharto memenuhi banyak aspek kepahlawanan baik sebagai prajurit yang berjuang dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 dan pembebasan Irian Barat maupun sebagai pemimpin yang menyelamatkan ekonomi nasional dari krisis pasca-Orde Lama.

“Pak Harto berhasil membawa Indonesia mencapai swasembada pangan, meningkatkan taraf hidup rakyat melalui pembangunan sektor pertanian, pendidikan, dan kesehatan,” ucapnya.

Haris juga menyoroti warisan konkret pemerintahan Soeharto yang masih dirasakan hingga kini seperti RS Kanker Dharmais, RS Jantung Harapan Kita, serta beasiswa Supersemar yang telah membantu jutaan pelajar di seluruh Indonesia.

Dia pun menekankan pentingnya melihat sejarah secara jujur dan menyeluruh. Pengakuan terhadap jasa besar Soeharto tidak berarti mengabaikan sisi-sisi kelam yang turut menjadi bagian dari perjalanan bangsa.

Setiap pemimpin memiliki kelebihan dan kekurangan. Soeharto pun tidak luput dari kritik atas praktik KKN dan insiden kemanusiaan di masa pemerintahannya. Namun, yang lebih penting kita belajar agar kesalahan serupa tidak terulang,” ungkapnya.

Karena itulah, Haris mengajak generasi muda mengambil nilai keteladanan dari para pemimpin bangsa tanpa terjebak pada glorifikasi masa lalu. Semangat membangun bangsa dengan keikhlasan adalah makna kepahlawanan sejati.

“Gelar pahlawan hanyalah bentuk penghargaan negara, tetapi yang abadi adalah nilai perjuangan dan pengabdian yang ditinggalkan bagi bangsa,”pungkas Haris.

Penulis:
Junaidi P.Hasibuan

LAINNYA
error: Content is protected !!