Kembalinya Sang Mantan Yang Bikin Koruptor Merinding

waktu baca 4 menit
Selasa, 17 Jun 2025 14:34 81 Suara Netizen

Suaranetizennews,- Siapa yang tidak mengenal Novel Baswedan, eks penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Selama dua dekade, sebagai penyidik senior KPK, ditangannya ada puluhan koruptor kalas kakap yang masuk hotel prodeo.

Tersingkir selama pemerintahan Presiden Jokowi, tak membuat semangat Novel Basedan surut dalam menggaungkan gerakan anti korupsi melalui chanel youtubenya.

Integritasnya dalam melibas pelaku korupsi tak perlu dipertanyakan. Khususnya disektor penerimaan negara, yang disebut sebagai hulu ranah  korupsi yang belum  sepenuhnya mendapat perhatian serius dari aparat penegak hukum.

Sebut saja dalam kasus Rafael Alun, pegawai Dirjen Pajak eselon 3 yang harta kekayaannya tajir melintir, melebihi harta kekayaan politisi belut licin.

Dalam sebuah kesempatan, Novel Baswedan pernah menyebut, korupsi yang paling besar adalah di sektor hulu penerimaan negara semisal pajak dan bea cukai. Karena itulah Novel  menggaris bawahi, betapa pentingnya peran pencegahan korupsi di sektor penerimaan negara.

Nah, itulah mungkin sebabnya  Kapolri menunjuk dua mantan penyidik KPK Novel Baswedan bersama Herry Muryanto, keduanya menjadi orang kepercayaan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, menduduki jabatan pimpinan untuk Satgassus Optimalisasi Penerimaan Negara.

Herry Muryanto sebagai Kepala Satgas dan Novel Baswedan sebagai Wakil Kepala.

Rekam Jejak Novel Baswedan

Nama Novel Baswedan sudah familiar sebagai pendekar yang ditakuti koruptor.

Pria kelahiran Semarang pada 22 Juni 1977 itu merupakan lulusan akademi kepolisian (akpol) tahun 1998.

Novel Baswedan mengawali kariernya sebagai anggota Polri pada tahun 1999, tepat setelah ia lulus pada tahun 1998 dari Akademi Kepolisian. Kemudian, ia ditugaskan di Bareskrim Mabes Polri selama dua tahun.

Pada tahun 2007, Novel Baswedan ditugaskan sebagai penyidik di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Kariernya di KPK terbilang sangat baik, ia terlibat dalam pembongkaran kasus korupsi dan membawa pulang kembali Muhammad Nazaruddin dari pelariannya di Kolombia pada tahun 2011.

Tak lama berselang, ia kembali membongkar kasus korupsi Wisma Atlet SEA Games 2011 yang menyeret Angelina Sondakh.

Pada tahun 2012, Novel Baswedan juga sempat menangani kasus korupsi simulator SIM yang melibatkan sejumlah pejabat kepolisian.

Kala itu, dua nama yang mencuat adalah Djoko Susilo selaku Mantan Kepala Korps Lalu Lintas Polri dan Didik Purnomo selaku mantan Wakil Kepala Korlantas Polri.

Pada 5 Oktober 2012, Novel baswedan didatangi oleh Kepolisian Bengkulu untuk menangkap dirinya yang diduga terlibat atas kasus penganiayaan dan pencurian sarang walet saat ia masih bertugas di Polri pada tahun 2004 di Bengkulu.

Kasus tersebut dihentikan atas permintaan mantan Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. Terdapat banyak kejanggalan terkait kasus tersebut, dimulai dari pemrosesan kasus hingga penuduhan Novel Baswedan, semuanya terlihat janggal.

Pada tahun 2014, Novel Baswedan memutuskan untuk mundur dari anggota Polri dan fokus pada KPK.

Setelahnya ia mampu bergerak bebas dan mengungkap beberapa kasus yang menyeret petinggi Polri. Novel Baswedan juga ikut serta dalam penangkapan Budi Gunawan selaku Komisaris Jenderal pada tahun 2015.

Penyerangan Novel Baswedan

Novel Baswedan yang dianggap dapat membongkar kasus-kasus besar yang membuat koruptor kelas kakap merinding ketakutan.

Pada tanggal 11 April 2017, Novel diserang oleh seseorang yang tak dikenal dengan menyiramkan air keras ke wajahnya.

Cairan tersebut adalah asam sulfat H2SO4  yang disiramkan ke arah wajah Novel Baswedan. Dia pun mengalami luka serius setelah  cairan tersebut mengenai matanya  yang pada akhirnya mengalami iritasi.

Kejadian ini terjadi setelah Novel Baswedan pulang setelah melakukan salat subuh di Masjid Jami Al-Ihsan Pegangsaan Dua.

Setelahnya, Novel Baswedan dibawa ke Rumah Sakit Mitra Keluarga dan mendapatkan rujukan ke Rumah Sakit Jakarta Eye Center.
Sehari kemudian, Novel Baswedan dibawa ke Singapura untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif karena terdapat peradangan di kornea mata miliknya.

Pada tahun 2019, kasus penyerangan Novel Baswedan akhirnya terungkap siapa yang terlibat dalam penyerangan tersebut.

Gabungan Polisi, penyidik KPK, serta Komnas HAM dan Akademisi berhasil mengungkapkan fakta-fakta penyerangan tersebut.
Pelaku penyerangan itu adalah dua anggota aktif kepolisian bernama Ronny Bugis dan Rahmat Kadir.

Publik tentunya sangat berharap pada kesaktian Novel Baswedan, sebut saja diranah pencegahan bukan penindakan. Pesan moral Kapolri yang menemepatkan Novel sebagai wakil adalah, semoga para koruptor disektor penerimaan negara mau bertobat, sebelum diciduk masuk hotel prodeo.
(JunHsb)

LAINNYA