Caption: Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Komarudin menyampaikan permohonan maaf, karena Jakarta masih sering macet horor. Suaranetizennews,– Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Metro Jaya, Kombes Pol Komarudin meminta maaf kepada masyarakat atas situasi kemacetan horor yang meningkat di Jakarta belakangan ini. Dirinya juga sangat mahfum terhadap keluhan masyarakat atas padatnya arus lalu lintas yang terjadi.
“Saya meminta maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat atas peningkatan kemacetan lalu lintas yang terjadi belakangan ini. Jujur ada banyak kegiatan VVIP belakangan ini. Kegiatan kenegaraan yang membuat kami harus lakukan rekayasa lalu lintas. Ditambah lagi pertumbuhan kendaraan juga sedang tinggi. Terjadilah situasi macet yang kita semua tidak inginkan,” jelas Kombes Pol Komarudin kepada progresifjaya.id, Minggu, (1/6).

Dikatakannya, permintaan maaf dan penjelasan yang disampaikannya ini diharapkan bisa membuat masyarakat lebih memahami perihal kenapa semakin hari arus lalu lintas di Jakarta bertambah padat. Perlu juga masyarakat ketahui bahwa jalur
Semanggi – HI – Sarinah – Patung Kuda – Gambir – Lap Banteng – Gedung Pancasila adalah area lintasan kawal kebesaran yang acap ditutup dengan upaya pengalihan arus lalu lintas.
Selain itu, lanjut Kombes Pol Komarudin, ada faktor penyebab kemacetan lainnya lagi yang juga harus diketahui masyarakat. Baik itu faktor yang bersifat berulang maupun tidak berulang atau insidental. Seperti misalnya, peningkatan jumlah kendaraan yang tidak diimbangi pertumbuhan infrastruktur jalan. Kemudian penggunaan jalan yang tidak tertib, kecelakaan lalu lintas, pekerjaan konstruksi, juga kondisi cuaca.
Pertumbuhan kendaraan yang tinggi seperti disebutkan tadi, lanjut Kombes Pol Komarudin, masuk dalam kategori faktor penyebab kemacetan yang berulang. Kenapa? Karena tingginya jumlah pertumbuhan kendaraan itu tak berimbang dengan pertumbuhan infrastruktur. Tak pernah ada perluasan atau peningkatan infrastruktur jalan seperti pelebaran jalan atau pembangunan jalan baru sehingga kapasitas jalan stuck tak pernah mencukupi.
Lainnya lagi yang juga jadi faktor berulang adalah penggunaan jalan yang tidak tertib. Parkir sembarangan atau kendaraan yang berhenti di bahu jalan tanpa alasan, contohnya, sangat berpotensi mengurangi kapasitas jalan dan menyebabkan kemacetan.
Kemudian juga ada pekerjaan konstruksi seperti perbaikan jalan atau pembangunan sebagai faktor berulang berikutnya. Tak dipungkiri, faktor berulang ini akan membuat penyempitan jalur atau perubahan arus lalu lintas yang bisa menimbulkan kemacetan parah.
“Volume kendaraan yang tinggi pada jam sibuk seperti pagi dan sore hari dan kerap melebihi kapasitas jalan juga jadi penyebab macet. Ini juga termasuk faktor berulang yang harus diketahui masyarakat,” ujar Kombes Pol Komarudin lagi.
Terhadap keadaan ini, lanjutnya, dirinya saat ini sudah berencana untuk menggelar dialog publik guna mengupas persoalan yang terjadi. Kupasan persoalan tersebut akan disajikan secara komprehensif, baik dari sisi empiris maupun sisi teoriris atau knowledge.
Lebih lanjut, Kombes Pol Komarudin juga menyatakan harapannya bisa menemukan solusi dari kupasan tersebut untuk mengatasi atau setidaknya meminimalisasi persoalan kemacetan yang terjadi.
Diakuinya juga, kalau mengacu pada data World of Statistics tahun 2024 di mana Jakarta berada di urutan 10 kota termacet di dunia, rasanya adalah musykil solusi dimaksud bisa didapatkan.
Apalagi setahun sebelumnya atau di tahun 2023, TomTom Traffic juga turut mengeluarkan data survei Jakarta sebagai kota paling macet urutan 9 di dunia. Indeks kemacetan yang diperoleh disusun untuk menunjukkan rata-rata waktu perjalanan di kota yang bersangkutan dalam radius 10 kilometer. Dan untuk Jakarta, rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk menempuh 10 km adalah 23 menit 20 detik.
Survei TomTom Traffic ini dilakukan di 387 kota di 55 negara dan 6 benua. Penilaian juga mencakup biaya bahan bakar dan emisi gas CO2 yang dihasilkan.
Untuk rating internasional, saat ini Jakarta ada di urutan 30 kota paling macet di dunia. Peringkat internasional ini membaik dibandingkan tahun 2022, di mana Jakarta berada di peringkat ke 29. Peringkat ini juga dibarengi dengan catatan tingkat kemacetan di Jakarta sebesar 53%, dengan total waktu terbuang sebesar 117 jam per tahun. Sementara kecepatan rata-rata pada jam sibuk hanya 21 km per jam. (RH)