Ilustrasi skandal chromebook di Kemendikbudristek. Suaranetizennews,- Mas menteri diera raja jawa abal-abal yang satu ini kelewat jenius. Saking jeniusnya, dia pikir dia paling pintar, menganggap semua wilayah di planet konoha ini sudah merdeka sinyal.
Padahal di Indonesia Bagian Barat tepatnya di Desa Mandalasena, Kecamatan Saipardolok Hole Kab.Tapanuli Selatan sana saja, untuk mendapat sinyal handphone seluler saja, warga desa harus menaiki gunung setinggi 500 meter. Sesampainya di puncak gunung, handphone mereka cuma bisa telpon dan sms. “Boro-boro dapat sinyal data internet, mau telpon anak saya yang kuliah di Kota Medan pun sangat sulit,”kata Bahri Hasibuan warga desa Mandala Sena.
Pertanyaannya, apakah Laptop Chromebook hasil kejeniusan mas menteri itu bisa digunakan di SMA dan SMP di Desa Mandalasena. Jelas tidak, sebab chromebook ala mas menteri hanya bisa digunakan, manakala ada sinyal internet.
Andai saja skandal korupsi chromebook disinetronkan, maka adegan yang paling serunya adalah, para siswa SMA di Desa Mandalasena meludahi muka dan wajah para koruptor yang sudah dijadikan tersangka oleh Kejaksaan Agung.
Ketika wajah para koruptor cromebook diludahi para siswa, adegan berikutnya adalah mas menteri kebetulan lewat dan melihat kejadian itu. Namun karena ketakutan, dia malah memalingkan wajahnya, pura-pura tidak melihat wajah anak buahnyanya diludahi para siswa.
Adegan berikutnya, apakah sang sutradara berani membuat skenario sinetron, para siswa desa tadi ramai-ramai mengejar mas menteri dan menghakiminya, macam pengadilan dijalanan?
Analogi sinetron khayalan diatas menandakan, Jika demikian skenarionya, mengapa mas menteri belum ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan hingga saat ini?
Kembali kecerita sinetron, sadar dikejar para siswa, mas menteri kabur ke rumah begundal terkuat si Raja Jawa. Mas Menteri meminta perlindungan, agar tidak diamuk massa para siswa yang mengejarnya sambil membawa parang dan clurit.
Untungnya raja jawa masih kuat, punya kuku yang panjang, dari Solo hingga ke lembaga anti rasuah Rasuna Said, sambung menyambung sampai ke markas partai coklat di Blok M sana. Karena itulah mas menteri belum bisa ditetapkan Kejaksaan sebagai tersangka?
Nyupir Ugal-Ugalan
Ketika Mas Menteri menjadi supir bus di Kementerian yang mengurusi sekolah, tancap gas polnya engga kira-kira. Dia bukan hanya lupa, bahkan tidak paham bahwa medan jalan yang akan dia lewati di depan adalah jalan berliku melebihi lika-liku kelok sembilan di Sumbar.
Alkisah pada bulan Agustus 2019, sebulan sebelum mas menteri resmi dilantik sebagai Menteri Pendidikan, sebuah grup WhatsApp eksklusif dibuat mas menteri dengan nama, “Mas Menteri Core Team.” Isinya bukan alumni Hogwarts, tapi nama-nama karib seperti Jurist Tan dan Fiona Handayani.
Mereka bukan sekadar tim bayangan, tapi tampaknya tim perencana yang sudah menyiapkan skenario besar pengadaan perangkat pendidikan berbasis ChromeOS.
Jadi sebelum mas menteri berada dikursi supir bus, dia sudah merencanakan gas pol tancap gas. Karena group Wa dia buat bahkan sebelum dirinya dilantik. Sebelum ada SK, sebelum APBN diketuk di Senayan, dan jauh sebelum para siswa tahu apa itu Chromebook.
Hal ini membuktikan bahwa visi dan misi mas menteri sungguh melejit jauh kedepan melalui perencanaan yang kelewat dini. Perencanaan niat mufakat jahat sudah dia persiapkan jauh-jauh hari sebelum bus Kemendikbudristek dia supiri.
Begitu mas menteri dilantik, niat mufakat jahat tadi pun di formalkan dalam rapat-rapat kaum intelektual yang menjabat, lengkap dengan pengajuan anggaran yang fantastis.
Menurut Kejagung, awalnya tim teknis Kemendikbudristek menyarankan laptop berbasis Windows. Tapi, setelah beberapa kali Zoom Meeting, yang dipimpin bukan oleh pejabat resmi, melainkan staf khusus, kajian pun mendadak berubah. Lalu tiba-tiba munculah binatang aneh bernama Chromebook yang menjadi binatang piaraan utama, yang harus dibelanjai dengan anggaran Rp 9,3 T.
Padahal, kata rakyat di desa Mandalasena sana: “Kami ini bukan di Bandung Mas. Jangankan Internet, mau telp dan sms saja masih sulit di kampung kami,”kata Bahri Hasibuan.
Seperti kita tahu, binatang Chromebook bisa pintar jika ada koneksi internet yang stabil.
Apa boleh baut, Mas Menteri sudah kadung menetapkan arah jalan bus yang akan dia supiri. Tancap gas, anggaran Rp9,3 triliun digelontorkan. Hasil akhirnya? 1,2 juta unit laptop Chromebook disebar ke sekolah-sekolah. Namun karena kendala konektivitas, banyak dari perangkat itu justru mubazir, jadi hiasan lemari sekolah, bukan alat belajar.
Lantas siapakah yang lebih bertanggung jawab? Apakah Jurist Tan dan Ibrahim Arief, yang disebut sebagai konsultan teknologi? Sri Wahyuningsih dan Mulyatsyah, dua pejabat struktural, sudah ditahan. Lalu Fiona? Masih melenggang ngumpet di luar negeri.
Sementara Mas Menteri, masih tersenyum pede di depan kamera, didampingi pengacara kondang huta PA dengan pernyataan andalannya “Menunggu proses hukum.”
Skandal di Lembaga Yang Mengajarkan Integritas
Bau yang paling amis, skandal chromebook ini terjadi di Kementerian Pendidikan. Lembaga yang seharusnya mengajarkan integritas, justru jadi ladang praktik korupsi, nepotisme, pengkondisian, dan konflik kepentingan.
Bayangkan, anak-anak diajarkan “berpikir kritis” dari buku PKN. Tapi laptop yang mereka pakai malah jadi patung bodoh, karena tidak terkoneksi internet.
Penyidik Kejagung bilang bahwa untuk menetapkan tersangka, perlu dua alat bukti. Empat orang sudah ditahan, tapi 280 juta satu bangsa sedang menunggu apakah hukum akan naik kelas, atau tetap tinggal kelas.
Mas menteri mungkin belum tersangka. Tapi arah angin sudah jelas. Empat anak buahnya sudah terjerat Kejaksaan. Proses rapatnya terekam. Keputusannya jelas menabrak kajian awal. Negara dirugian senilai Rp2 triliun.
Pertanyaannya tinggal satu, akankah hukum naik hingga ke puncak struktur nomor 1? Atau hanya mengorbankan pion-pion kecil, sebagaimana strategi dalam bermain catur?
Pemimpin Redaksi