Tak Ubahnya Kabar Isapan Jempol, Rumor Pergantian Kapolri  Cuma Mau “Cek Ombak”

waktu baca 3 menit
Rabu, 4 Jun 2025 11:11 158 Suara Netizen

Suaranetizennews,- Sepekan terakhir memasuki bulan Juni ini, berita rumor pergantian Kapolri menghiasi halaman utama media online nasional. Sosok pengganti Kapolri baru yang dirumorkan adalah Komjen Rudy Heriyadi, Jenderal bintang tiga yang sedang menjabat Sekretaris Jenderal  di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Lalu ada pula nama Kapolda Nusa Tenggara Timur (NTT) Irjen Rudi Darmoko. Keduanya  digadang-gadang bakal menjadi pengganti Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Bukan kali ini saja, rumor pergantian Kapolri juga sempat beredar saat peralihan tampuk kekuasaan dari Presiden Joko Widodo kepada Presiden Prabowo Subianto. Namun, seiring berjalannya waktu, ternyata rumor tersebut hilang lenyap ditelan isu berita lain, lantaran Kapolri Listyo Sigit Prabowo, tetap di pertahankan oleh Presiden Prabowo Subianto.

banner 600x600

Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI), R Haidar Alwi berpandangan,  rumor pergantian Kapolri kali ini sengaja dihembuskan oleh pihak-pihak yang resah dengan komitmen dan sepak terjang  Jend. Listyo Sigit Prabowo dalam memberantas kejahatan.

Sebut saja salah satunya kejahatan premanisme, yang akhir-akhirnya semakin kencang penindakannya.

“Kejahatan yang selama ini berada di zona aman dan nyamannya, oleh Kapolri Listyo Sigit Prabowo semuanya ditumpas tanpa pandang bulu. Inilah yang membuat kejahatan menjadi gerah dan resah sehingga menginginkan pergantian Kapolri,” kata Haidar dalam keterangan tertulisnya,  Rabu 04/05/2025.

Haidar menilai, rumor pergantian Kapolri muncul sesaat setelah Polri merilis penangkapan terhadap lebih dari  10 ribu preman hanya dalam kurun waktu 25 hari. Mulai dari preman jalanan, preman berseragam ormas hingga preman yang bersembunyi di balik rapihnya setelan dasi dan jas.

Menariknya, ternyata hasil survei Indikator Politik Indonesia menunjukan, mayoritas masyarakat merasa puas dengan kinerja Polri dalam memberantas premanisme. Sebab, di era kepemimpinan Kapolri Listyo Sigit inilah, premanisme sebagai kejahatan yang nyaris tak tersentuh, bahkan ada yang terafiliasi dengan partai besar, ormas raksasa dan dekat dengan kekuasaan sekalipun, ditumpas habis sampai ke akar-akarnya.

Haidar menyampaikan, bahwa ada petinggi Parpol yang ingin menemui Kapolri, sebab kadernya sebagai petinggi ormas ditangkap KPK.

“Kita ingat bagaimana salah satu pimpinan parpol besar berkali-kali ingin menemui Kapolri saat ada kadernya yang tersandung kasus hukum di KPK. Bagaimana KPK berani menggeledah rumah sejumlah pimpinan ormas besar yang selama ini tak tersentuh,” kata Haidar.

“Di KPK itu ada penyidik Polri. Betapa banyak anggota ormas yang dekat kekuasaan ditangkap oleh Polri karena aksi premanisme. Itu semua menandakan bahwa Kapolri Listyo Sigit Prabowo tidak bisa diintervensi, diintimidasi dan tidak kenal kompromi terhadap kejahatan,”tambahnya.

Motif lain di balik rumor pergantian Kapolri disinyalir sebagai media “cek ombak” untuk mengetahui respon publik terhadap kepemimpinan Kapolri Listyo Sigit Prabowo.

Sinyalemen tersebut boleh-boleh saja, sebab hingga hari ini belum ada satu katapun statemen Presiden Prabowo yang mengindikasikan pergantian Kapolri.

“Yang pasti belum ada pernyataan resmi dari Presiden sebagai pemegang hak prerogatif dalam mengusulkan pergantian Kapolri kepada DPR,” pungkas Haidar. (JunHsb)

LAINNYA
error: Content is protected !!